Tanpa disadari Tasman, selama ini dia benar. Memang ada sebuah benua yang hilang. Pada 2017, sekelompok ahli geologi menjadi tajuk berita utama ketika mereka mengumumkan penemuan Zealandia — Te Riu-a-Māui dalam bahasa Māori.
Sebuah benua dengan luas 1,89 juta mil persegi (4,9 juta km persegi), yang berarti enam kali lebih besar dari Madagaskar. Ensiklopedia, peta, dan mesin telusur dunia bersikukuh hanya ada tujuh benua selama ini, namun tim tersebut dengan yakin memberi tahu dunia bahwa fakta itu salah.
Ada delapan benua — dan benua yang baru ditemukan ini memecahkan banyak rekor, sebagai benua yang terkecil, tertipis, dan termuda di dunia. Dipercaya 94% bagiannya terbenam di bawah laut, dengan sejumlah pulau, seperti Selandia Baru, yang menjorok keluar dari kedalaman samudra. Benua ini tersembunyi di depan mata kita selama ini.
"Ini adalah contoh bagaimana sesuatu yang sangat jelas, membutuhkan waktu lama untuk terungkap," ujar Andy Tulloch, ahli geologi dari Crown Research Institute GNS Science Selandia Baru, yang merupakan bagian dari tim yang menemukan Zealandia.
Tapi ini baru permulaan. Empat tahun berlalu, dan benua itu masih diselimuti teka-teki. Rahasianya terjaga dengan ketat 2km di bawah permukaan laut.
Bagaimana ia terbentuk? Apa yang dulu hidup di sana? Dan sudah berapa lama ia berada di bawah laut?
Penemuan yang melelahkan
Faktanya, Zealandia memang selalu sulit dipelajari. Lebih dari seabad setelah Tasman menemukan Selandia Baru pada 1642, pembuat peta asal Inggris James Cook dikirim dalam perjalanan ilmiah untuk menjelajahi belahan Bumi selatan.
Perintah resminya adalah mengamati orbit Venus di antara Bumi dan Matahari, untuk menghitung seberapa jauh jarak Matahari.