Share

Raja Malaysia Punya Kuasa untuk Memilih PM Baru, Ini Alasannya

Nadilla Syabriya, Okezone · Rabu 23 November 2022 17:49 WIB
https: img.okezone.com content 2022 11 23 18 2713448 raja-malaysia-punya-kuasa-untuk-memilih-pm-baru-ini-alasannya-4jhpNqJNZh.jpg Raja Malaysia dan istri (Foto: Reuters)

KUALA LUMPUR - Raja Malaysia, Al-Sultan Abdullah Sultan Ahmad Shah sontak jadi sorotan saat dia mempertimbangkan siapa yang akan menjadi perdana menteri (PM) berikutnya di negara itu.

"Biarkan saya membuat keputusan segera," katanya kepada wartawan pada Selasa (22/11/2022) seperti dikutip Al Jazeera.

Hal tersebut terjadi setelah pemilihan antara pemimpin oposisi, Anwar Ibrahim dan mantan perdana menteri Muhyiddin Yassin yang tidak memperoleh suara cukup untuk membentuk koalisi pada Sabtu (19/11/2022).

Ini akan menjadi ketiga kalinya raja memilih perdana menteri hanya dalam waktu dua tahun, meskipun ini pertama kalinya terjadi setelah pemilihan. Namun, siapa sebetulnya Raja Malaysia?

Baca juga: Sosok Raja Malaysia yang Akan Turut Memilih Perdana Menteri Baru

Raja Al-Sultan Abdullah Sultan Ahmad Shah naik tahta pada 2019 pada usia 59 tahun. Ia menjadi raja Malaysia ke-16 sejak memperoleh kemerdekaan dari Inggris pada  1957.

Baca juga: Anwar Ibrahim dan Muhyiddin Yassin Bersaing, PM Malaysia Akan Dipilih Langsung oleh Raja

Malaysia memiliki monarki konstitusional yang unik di mana raja dipilih secara bergiliran dari keluarga kerajaan sembilan negara bagian, dan masing-masing memerintah selama lima tahun. Al-Sultan Abdullah yang berkacamata itu menjadi raja setelah raja sebelumnya turun tahta secara mengejutkan.

Penguasa negara bagian Pahang di pesisir timur Malaysia, Raja Al-Sultan Abdullah meraih popularitas karena citranya yang membumi di awal pemerintahannya setelah terlihat mengantri di Kentucky Fried Chicken dan membantu korban kecelakaan di sebuah jalan raya.

Baca Juga: Peduli Pejuang Kanker, Donasi Rambut bersama Lifebuoy x MNC Peduli Tengah Berlangsung!

Al-Sultan Abdullah dikenal sebagai olahragawan yang rajin. Uniknya, ia pernah mewakili negaranya dalam pertandingan sepak bola di masa mudanya. Dia juga pernah menjabat sebagai anggota Komite Eksekutif FIFA dan sebagai presiden Federasi Hoki Asia.

Lantas, apa alasan Raja Malaysia memiliki kuas untuk memilih perdana menteri yang baru?

Pada dasarnya, Malaysia menganut demokrasi parlementer di mana partai atau koalisi yang memenangkan kursi terbanyak dalam pemilihan umum akan membentuk pemerintahan. Pemimpin partai atau koalisi itu biasanya menjadi perdana menteri.

Namun, konstitusi memberi raja kekuatan untuk menunjuk seorang perdana menteri yang dia yakini dapat memimpin mayoritas di antara anggota parlemen. Raja Malaysia jarang menggunakan kekuasaan itu, tetapi ketidakstabilan politik dalam dua tahun terakhir telah mendorong raja untuk memilih seorang perdana menteri.

Kekuasaan itu telah digunakan dua kali sejak Februari 2020, ketika perebutan kekuasaan menyebabkan runtuhnya pemerintahan PH terpilih pada 2018 dan pengunduran diri Perdana Menteri Mahathir Mohamad. Namun, tidak dapat titik temunya sehingga Sultan Al-Abdullah mengumumkan Muhyiddin Yassin sebagai pemimpin.

Di tengah ketidakstabilan yang terus berlanjut, Muhyiddin memutuskan berhenti pada Agustus 2021. Kemudian raja memilih Ismail Sabri Yaakob yang merupakan wakil presiden Organisasi Nasional Melayu Bersatu (UMNO) sebagai perdana menteri. Dalam kesempatan itu, dia meminta anggota parlemen untuk menyerahkan deklarasi undang-undang tentang orang yang dianggap mendapat dukungan mayoritas di DPR.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini