Share

Pengunjuk Rasa Protes Iran Dijatuhi Hukuman Mati, Pakar Independen PBB Prihatin Represi Meningkat

Susi Susanti, Okezone · Rabu 30 November 2022 14:23 WIB
https: img.okezone.com content 2022 11 30 18 2717830 pengunjuk-rasa-protes-iran-dijatuhi-hukuman-mati-pakar-independen-pbb-prihatin-represi-meningkat-a6vmDljTfz.jpg Protes anti-pemerintah di Iran terkait kematian Mahsa Amini (Foto: Reuters)

JENEWA - Seorang ahli independen yang ditunjuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Iran menyuarakan keprihatinan pada Selasa (29/11/2022) bahwa represi terhadap pengunjuk rasa dalam protes nasional Iran semakin meningkat, dengan pihak berwenang meluncurkan "kampanye" untuk menjatuhkan hukuman mati kepada mereka.

PBB mengatakan lebih dari 300 orang meninggal dan 14.000 ditangkap dalam protes yang dimulai setelah kematian wanita Kurdi berusia 22 tahun, Mahsa Amini dalam tahanan pada 16 September lalu.

Baca juga: Ketika Kapten Timnas Iran Cerita Tentang Kondisi Negaranya di Piala Dunia 2022, Klaim Rakyat Tidak Bahagia 

"Saya khawatir rezim Iran akan bereaksi keras terhadap resolusi Dewan Hak Asasi Manusia dan ini dapat memicu lebih banyak kekerasan dan represi di pihak mereka," kata Javaid Rehman kepada Reuters, merujuk pada pemungutan suara Dewan Hak Asasi Manusia PBB untuk melakukan penyelidikan atas kasus tersebut.  Namun Teheran telah menolak penyelidikan tersebut dan mengatakan tidak akan bekerja sama.

 Baca juga: 300 Orang Meninggal dalam Protes Nasional, PBB Sebut Situasi di Iran Kritis

"Sekarang (otoritas) telah memulai kampanye hukuman mati (para pengunjuk rasa)," tambahnya, mengatakan dia mengharapkan lebih banyak hukuman.

Rehman mengatakan 21 orang telah ditangkap dalam konteks protes menghadapi hukuman mati, termasuk seorang wanita yang didakwa atas tindak pidana yang tidak jelas, dan enam orang telah dijatuhi hukuman bulan ini.

Baca Juga: BuddyKu Festival, Generasi Muda Wajib Hadir

Follow Berita Okezone di Google News

Rehman mengatakan dia mengharapkan Misi Pencari Fakta yang baru untuk memberikan daftar pelaku dan membaginya dengan otoritas hukum nasional dan regional.

"Ini akan memastikan akuntabilitas dan itu akan memberikan bukti ke pengadilan dan pengadilan," katanya. Sebuah dokumen PBB menunjukkan misi tersebut akan memiliki 15 anggota staf dan anggaran sebesar USD3,67 juta (Rp58 miliar).

Sementara itu, mengutip seorang pejabat pengadilan, kantor hak asasi manusia PBB mengonfirmasi dalam email bahwa salah satu dari mereka yang didakwa melakukan "korupsi di bumi karena publikasi kebohongan dalam skala besar" adalah rapper terkenal Iran Toomaj Salehi.

Seperti diketahui, Iran menyalahkan musuh asing dan agen mereka atas kerusuhan itu. Kepala kehakimannya bulan lalu memerintahkan hakim untuk menjatuhkan hukuman berat bagi "elemen utama kerusuhan".

Bahkan sebelum kerusuhan, eksekusi dilaporkan terus meningkat. Bos hak asasi manusia PBB Volker Turk mengatakan jumlah tahun ini dilaporkan telah melampaui 400 orang pada September lalu untuk pertama kalinya dalam lima tahun.

Resolusi PBB dipandang sebagai salah satu kata yang lebih tegas dalam sejarah 16 tahun badan tersebut dan mendesak misi tersebut untuk "mengumpulkan, mengkonsolidasikan, dan menganalisis bukti".

Investigasi sebelumnya yang diluncurkan oleh dewan telah mengarah pada kasus kejahatan perang, termasuk pemenjaraan seorang mantan perwira Suriah atas penyiksaan yang didukung negara di Jerman pada tahun ini.

1
3

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini