Share

Media Pemerintah Iran Bantah Polisi Moralitas Iran Dibubarkan

Susi Susanti, Okezone · Senin 05 Desember 2022 10:02 WIB
https: img.okezone.com content 2022 12 05 18 2720584 media-pemerintah-iran-bantah-polisi-moralitas-iran-dibubarkan-L8WMn90rfa.jpg Protes anti-pemerintah di Iran terkait kematian Mahsa Amini (Foto: Reuters)

IRANJaksa Agung Iran Mohammad Jafar Montazeri mengatakan polisi moralitas Iran, yang bertugas menegakkan aturan berpakaian Islami di negara itu telah dibubarkan. Namun media pemerintah Iran dengan keras menolak komentar tersebut, dengan mengatakan kementerian dalam negeri mengawasi pasukan, bukan peradilan.

Menanggapi seorang reporter yang menanyakan apakah polisi moral negara dibubarkan, Montazeri memberikan pendapatnya ke media pemerintah Iran.

Baca juga:  Jaksa Agung Sebut Undang-Undang Wajib Jilbab di Iran Sedang Ditinjau

“Polisi moral tidak ada hubungannya dengan peradilan. Itu dihapuskan dari tempat yang sama saat diluncurkan. Tentu saja, kejaksaan akan terus memantau perilaku masyarakat,” ujarnya.

Adapun CNN mencoba menghubungi Kementerian Dalam Negeri untuk memberikan komentar.

Baca juga: Jaksa Agung: Polisi Moralitas Iran yang Tegakkan Aturan Berpakaian Islami Dibubarkan

Televisi negara Al-Alam berbahasa Arab mengklaim media asing menggambarkan komentar Montazeri sebagai "kemunduran pihak Republik Islam dari sikapnya terhadap jilbab dan moralitas agama sebagai akibat dari protes", tetapi itu semua dapat dipahami dari komentarnya adalah bahwa polisi moralitas tidak berhubungan langsung dengan peradilan.

“Tetapi tidak ada pejabat Republik Islam Iran yang mengatakan bahwa Patroli Bimbingan telah ditutup,” kata Al-Alam pada Minggu (4/12/2022) sore.

Baca Juga: BuddyKu Festival, Generasi Muda Wajib Hadir

Follow Berita Okezone di Google News

“Beberapa media asing telah mencoba menafsirkan kata-kata ini oleh jaksa agung sebagai Republik Islam mundur dari masalah jilbab dan kesopanan dan mengklaim bahwa itu karena kerusuhan baru-baru ini,” lanjutnya.

Pernyataan itu diucapkan di Qom, yang dianggap sebagai kota suci dalam Siha Islam.

Seperti diketahui, negara itu telah dihantam gelombang protes massa yang pertama kali dipicu oleh kematian Mahsa Amini dan sejak itu menyatu dengan berbagai keluhan tentang rezim.

Kematian Mahsa Amini yang berusia 22 tahun, yang meninggal dalam tahanan polisi setelah ditangkap oleh polisi moral karena diduga tidak mengenakan jilbabnya dengan benar.

Kematiannya pada 16 September lalu membuat warga Iran marah. Banyak tokoh masyarakat terkemuka mendukung gerakan tersebut, termasuk aktor top Iran Taraneh Alidoosti.

Pihak berwenang pun telah melakukan tindakan keras yang mematikan terhadap para demonstran, dengan laporan penahanan paksa dan penganiayaan fisik yang digunakan untuk menargetkan kelompok minoritas Kurdi di negara itu.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini