Share

Melihat Deretan Kekuatan Militer Arab Saudi, Termasuk Senjata yang Super Canggih dan Mematikan

Fatmawati, Okezone · Kamis 08 Desember 2022 15:42 WIB
https: img.okezone.com content 2022 12 08 18 2723210 melihat-deretan-kekuatan-militer-arab-saudi-termasuk-senjata-yang-super-canggih-dan-mematikan-50WhNdZ87Z.jpg Kekuatan militer Arab Saudi (Foto: National Interest)

JAKARTA – Meski tak sebanding dengan kekuatan militer yang dimiliki oleh Amerika Serikat (AS) maupun Rusia, namun kekuatan militer Arab Saudi berhasil masuk ke dalam peringkat ke-25 dunia.

Bahkan, Arab Saudi juga telah memiliki deretan senjata canggih sebagai senjata untuk mempertahankan wilayah mereka dari serangan musuh. Beberapa diantaranya dibeli dari beberapa negara, seperti Amerika Serikat dan Inggris.

 Baca juga: Perbandingan Kekuatan Militer Korea Selatan vs Korea Utara, Siapa yang Paling Kuat?

Berikut adalah beberapa senjata militer yang dimiliki Arab Saudi dengan kemampuan canggih dan mematikan, mengutip laman The National Interest.

1. F-15

Senjata ini merupakan salah satu pesawat tempur milik Arab Saudi yang sebelumnya pernah digunakan oleh Amerika Serikat selama beberapa generasi. F-15 mampu melakukan serangan udara jarak pendek dan jarak jauh yang dipergunakan selama misi peperangan.

Baca juga: 10 Negara Ini Miliki Kekuatan Militer Paling Hebat di Dunia, Salah Satunya Negara Komunis

Total sebanyak 238 pesawat tempur F-15 milik Arab Saudi, yang terdiri dari 84 F-15SA, dan varian F-15 terbaru Boeing Corp. Memiliki jangkauan pesawat sejauh 2.400 mil sehingga memungkin seorang awak pesawat dapat melakukan perjalanan dari Irak Utara ke Yaman Selatan tanpa harus bergantung pada pesawat pengisian bahan bakar di untuk mencapai target.

 2. Paveway IV

Senjata seberat 500 pon ini menjadi salah satu bom mematikan yang dimiliki Arab Saudi. Paveway IV digambarkan oleh militer Inggris sebagai senjata canggih dan memiliki keakuratan yang memiliki kekuatan RAF dengan kemampuan pengeboman yang dipandu dengan presisi tinggi.

Dilengkapi dengan teknologi GPS berpemandu presisi canggih sehingga dapat membidik target secara maksimal.

Follow Berita Okezone di Google News

3. Pasukan Militer Khusus Arab Saudi

Sama halnya dengan pasukan militer AS, pasukan khusus milik Arab Saudi juga sangat mahir dalam apa yang mereka lakukan, seperti membantu pasukan proksi dalam hal pelatihan, peralatan, uang, dan dukungan penting lainnya untuk keberhasilan misi.

Program pelatihan rahasia Arab Saudi untuk pejuang Southern Resistance fighters memungkinkan pasukan anti-Houthi untuk merebut kembali sejumlah distrik Aden termasuk bandara Internasional Aden.

Maka, dengan program pelatihan dan bantuan yang diberikan AS untuk pejuang oposisi Suriah moderat, yang ikut berjuang untuk terus bangkit dan partisipasi Arab Saudi dalam upaya tersebut akan menjadi lebih penting bagi koalisi percobaan mengembalikan keuntungan teritorial yang dibuat oleh Negara Islam.

4. Anggaran besar

Sebagai pengekspor minyak mentah utama dunia ke pasar Internasional, menbuat Arab Saudi memiliki pemasukan yang sangat fantastis. Anggaran pertahanan Arab Saudi bahkan diperkirakan akan terus membengkak, menempati urutan kelima dunia pada tahun 2020.

Hal tersebut didukung oleh cadangan devisa yang besar dan kuat, hingga pendapatan minyak bulanan mencapai puluhan miliar dolar.

Sejauh ini, Arab Saudi merupakan pembeli senjata terbesar di Timur Tengah, dan pengeluaran tersebut berdasarkan anggaran nasional yang dikhususkan oleh pemerintah sebagai anggaran pertahanan yang terus meningkat setiap tahunnya.

Akuisisi pertahanan Riyadh pada 2014 meningkat 17 persen dari level 2013. Pada 2002, pembelanjaan pertahanan Arab Saudi hanya di bawah USD20 miliar; hari ini lebih dari USD80 miliar, naik 300 persen. Ketika suatu negara membelanjakan sebanyak ini, uang tidak lagi menjadi sumber daya melainkan menjadi senjata melawan pesaing.

5. Beban Diplomatik

Senjata paling ampuh yang dimiliki Arab Saudi adalah kemampuannya dalam menulis cek dan meyakinkan sekutu di seluruh kawasan untuk menyetujui dan melakukan penawarannya. Seorang Sarjana Timur Tengah menyebut pendekatan ini sebagai “diplomasi buku cek”, dan membuktikan bagaimana Riyadh cenderung mengejar ambisi regionalnya melalui kekuatan lunak dibandingkan paksaan melalui kekuatan militer.

1
3

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini