Tas Kresek Rajut Ekspor
Generasi milenial di Ambarawa Kabupaten Semarang, turut mengambil peran peduli lingkungan dengan mengolah sampah plastik yang dikumpulkan. Plastik kresek bekas yang semula menjadi permasalahan seluruh dunia, ternyata bisa disulap menjadi tas rajut yang cantik dengan nilai ekonomi tinggi.
“Sebelumnya saya memang punya hobi crafting, merajut, terus bikin kerajinan-kerajinan tangan yang lain. Memang diawali dari limbah yang numpuk di kamar kos waktu itu, dari situ saya mulai membuat sesuatu kerajinan,” kata founder tas kresek rajut Kreskros, Deasy Esterina.
“Saya juga melihat ada sebuah kecemasan, ini bukan cuma nasional, bukan cuma daerah kita sendiri, tapi sudah menjadi concern internasional, terbukti sekarang kan semakin banyak negara yang memang meningkatkan konsentrasinya pada penanganan limbah plastik. Climate change salah satunya adalah akibat limbah plastik,” beber dia.
Meski dikerjakan secara manual, namun tas kresek rajut buatan Kreskros itu memiliki kualitas premium. Tak heran, berbagai jenis tas yang diproduksi bukan hanya menarik konsumen lokal, tetapi juga telah menembus pasar ekspor ke Singapura, Australia, hingga Kanada.
“Kita sebagai generasi muda, termasuk saya Generasi Y bisa kok melakukan sesuatu dimulai dari yang disukai. Nah karena saya juga belajar desain waktu sekolah, jadi mencoba untuk membuat desain-desain, produk yang bisa dipakai,” tutur perempuan berusia 32 tahun itu.
“Meskipun ini (tas kresek rajut) dibuatnya dari limbah, dari sampah, kita melakukan recycle. Kita melakukan karya ulang, tapi enggak harus kan bahwa sampah itu dilihat-lihatin kalau ini sampah. Saya kembali membangun nilai fungsi dan estetiknya, jadi kita benar-benar bisa mengubah habit itu untuk dipakai keseharian,” lanjutnya bersemangat.
Untuk melayani pesanan konsumen, Deasy menggandeng tetangga dan teman-temannya. Mereka dikerahkan untuk membersihkan plastik bekas yang telah dikumpulkan, kemudian dipotong memanjang mirip benang.
Kemahirannya merajut mulai ditularkan kepada para pegawai. Tak kresek bekas yang mayoritas berwarna hitam dikombinasi dengan benang rajut warna merah, cokelat, atau biru sesuai keinginan konsumen. Kemudian, lembaran kresek rajut itu dijahit sesuai pola tas.
“Karena antusias tinggi itu, kita juga semakin berkembang. Dan kita menciptakan barang yang lebih premium dengan kualitas yang terseleksi. Dari awalnya buat sendiri pada 2014, kita mulai bisa ekspor pada 2017, dan terus berjalan sampai sekarang,” lugasnya.
“Banyak perusahaan-perusahaan yang semakin melek untuk peduli lingkungan. Jadi kita membuat banyak suvenir juga sekarang, di mana suvenir ini punya nilai. Kita memberikan suvenir yang bukan cuma punya nilai jual, tapi juga punya nilai kesadaran yang lebih tinggi. Sehingga ketika produk ini kita estafetkan ke orang lain, mereka diharapkan bisa terinspirasi dan saling menulari semangat itu (menjaga lingkungan),” imbuhnya.
Menurutnya, pasar dalam negeri yang paling potensial terhadap produknya adalah Jakarta dan Bali. Meski harga yang dipatok cukup tinggi, yakni mulai Rp150 ribu hingga Rp2,4 juta rupiah per buah, namun pesanan masih terus mengalir.
“Kalau penjualan di Indonesia memang paling tinggi itu di Jakarta sama Bali. Saat ini banyak perusahaan, hotel, bank, dan lain-lain yang butuh suvenir. Produk itu nanti sudah termasuk packaging dan card-nya. Jadi kita sediakan card, yang menceritakan supaya orang tahu produk ini memberdayakan ibu-ibu supaya mereka semakin berdaya, dan dibuat dari limbah plastik yang bertanggung jawab,” tandasnya.