Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Tas Olahan Sampah Tembus Pasar Ekspor, Wujud Ekonomi Biru di Pantura Jateng

Taufik Budi , Jurnalis-Jum'at, 09 Desember 2022 |17:41 WIB
Tas Olahan Sampah Tembus Pasar Ekspor, Wujud Ekonomi Biru di Pantura Jateng
A
A
A

SEMARANG – Emak-emak melangkah cepat sambil menenteng karung di sepanjang garis Pantai Tirang Kota Semarang Jawa Tengah. Bekas tapak langkah mereka segera hilang, karena butiran pasir yang membentuk alas kaki beterbangan ditiup angin.

Mereka yang berjumlah 12 orang tak canggung melintas di antara ratusan wisatawan yang tengah menikmati lukisan alam dan deburan ombak. Botol bekas dan sedotan plastik yang sebagian telah terkubur pasir, segera dipungut dimasukkan karung.

Langkah mereka masih berlanjut menyusuri pantai meski tak ada lagi bangunan-bangunan rumah kecil tempat bersantai wisatawan. Di lokasi itu, masih ditemukan sampah. Sebagian terombang-ambing dibawa ombak sebelum terhempas ke hamparan pasir.

Emak-emak ini bukan pemulung, melainkan para pegiat lingkungan yang tergabung dalam Komunitas Green Solidarity Indonesia. Setiap pekan, mereka turun ke pantai yang menjadi wisata andalan Kota Semarang itu, untuk mengumpulkan sampah.

“Kami sangat menikmati suasana pantai di sini, dan ini satu-satunya pantai di Kota Semarang. Sehingga kami mempunyai keinginan untuk turut melindungi dan memperbaiki kondisinya,” kata salah satu pegiat lingkungan, Theresia Tarigan, Kamis (8/12/2022).

“Kita melihat perilaku pengunjung masih belum disiplin dalam membuang sampah.Maka kami bersama-sama ada 12 orang, kami bawa bagor khusus (karung) untuk melakukan pembersihan Pantai Tirang,” ujarnya sembari memungut sedotan bekas.

Menjelang langit berwarna kekuningan di ufuk barat, mereka masih mencari sampah. Sesekali berhenti untuk menengadah melihat pesawat terbang yang betolak maupun akan mendarat ke Bandara Ahmad Yani. Sekaligus meregangkan punggung, karena terlalu lama berjalan membungkuk.

“Kita masing-masing menemukan sampah yang rasanya di luar dugaan. Selain sampah sandal, ternyata ada kaus. Yang paling banyak terutama sampah bungkus makanan, sedotan, kemudian bungkus minuman atau mi instan,” terangnya.

Menurutnya, sampah-sampah laut itu sangat berbahaya. Sampah bukan hanya berpotensi tertelan ketika anak-anak bermain air, tetapi juga bisa menjadi mikroplastik dan dimakan ikan. Padahal, ikan itu ketika dikonsumsi manusia akan berdampak buruk pada kesehatan.

“Kami sangat mengharapkan kesadaran dan keinginan melakukan sesuatu dengan lebih disiplin jadi ketika menikmati makanan, berlibur, kita tidak merusak lingkungan dengan meninggalkan sampah di mana-mana,” harap dia.

Bukan hanya mengumpulkan sampah, mereka juga menanam mangrove di sepanjang pantai untuk mencegah abrasi dan kerusakan lingkungan. Tanaman bakau jenis polongan, selain bibitnya mudah didapat, cara penanaman juga hanya ditancapkan saja.

“Kita rutin tiap pekan ke sini. Jadi memang pantai ini dekat, mudah diakses dan syukurnya (tiket) masuk ke sini tidak mahal. Kita bisa menikmati deburan ombak, serta pandangan yang luas, ini sangat indah, makanya kita harus jaga,” tandas Theresia.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement