JAKARTA - Kisah Benny Moerdani nyaris tewas ditembak Special Air Service (SAS), pasukan khusus Inggris dan pasukan elite Belanda Koninklijke Mariniers menarik untuk dibahas.
Melansir buku berjudul “Benny Moerdani yang Belum Terungkap” perburuan terhadap Benny oleh pasukan elite Belanda Koninklijke Mariniers bermula saat Benny yang saat itu berpangkat Kapten bersama prajurit RPKAD kini bernama Kopassus diterjunkan dalam Operasi Naga di Irian Barat.
Operasi Naga, merupakan operasi yang cukup berat karena harus menggagalkan rencana Belanda mendirikan “negara boneka” di Papua. Operasi ini menjadi strategi TNI untuk memecah konsentrasi pasukan Belanda yang jumlahnya mencapai 10.000 prajurit dan berpusat di Biak.
Sebanyak 213 prajurit Kopassus diterjunkan dari tiga pesawat C-130 Hercules di atas Merauke, Papua, pada 23 Juni 1962. Namun Sayangnya, operasi itu bocor oleh siaran radio Australia.
Pasukan Belanda yang memperoleh informasi itu kemudian melakukan penyergapan terhadap Benny dan pasukannya. Akibatnya, perjalanan pasukan Naga yang dipimpin Benny menuju pusat pertahanan Belanda di Merauke banyak mendapatkan rintangan.
Selain alam, Benny dan pasukannya juga juga harus bertempur dengan Marinir Belanda. Salah satunya, pertempuran yang terjadi pada 28 Juni 1962. Saat itu, dua perahu motor Marinir Belanda tiba-tiba menyerang pasukan Benny Moerdani yang sedang beristirahat di Sungai Kumbai. Pertempuran jarak dekat pun tak dapat dielakkan. Benny langsung berlindung dan menginstruksikan anak buahnya untuk menyelamatkan diri.
Dalam penyergapan, Benny nyaris tewas karena topi rimbanya tertembak. Namun, nyawanya masih bisa selamat. Benny juga diburu Pasukan Elite terbaik dunia SAS, asal Inggris saat konfrontasi militer Indonesia-Malaysia di pedalaman belantara hutan Kalimantan Utara pada 1964. Ketika itu Benny melakukan penyusupan jauh ke wilayah musuh.