Untuk itu, sektor digital diharapkan mampu menjadi lokomotif pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Bukan hanya Indonesia, negara-negara di dunia kini juga makin akrab dengan digitalisasi sejak pandemi Covid-19 melanda dunia pada 2019.
“Indonesia sudah jelas punya potensi ekonomi digital yang luar biasa. Pernah ada survei yang mencoba membandingkan ketika (pandemi) Covid, kota mana di dunia yang paling diminati? Nomor 1 Kota Porto di Portugal, nomor 2 Canggu di Bali. Jadi luar biasa Canggu ini,” ujarnya.
“Nah berarti kita harus kembali lagi kapitalisasi pada potensi tersebut. Ini termasuk ekspor jasa, juga mulai menumbuhkan bisnis digital yang ada di Indonesia. Kuncinya kalau kita mau jadi tempat digital, broadband connection ya harus the best, karena mereka sudah memilih untuk bekerja dari jauh dan salah satu pertimbangan mereka bekerja dari jauh bukan hanya masalah pemandangan bagus, makan enak, rumah nyaman, tapi yang paling penting adalah internet connection, karena itu yang membuat bisnis digital hidup,” ungkap dia.
Pria kelahiran 3 Oktober 1966 itu menambahkan, untuk mendukung ekonomi digital berkembang adalah tumbuhnya wirausahawan-wirausahawan baru yang muncul dengan startup. Padahal, selama ini paradigma di masyarakat UMKM kebanyakan bergerak di sektor tradisional.
“Indonesia ini sudah lama kesulitan mencari entrepreneurship. Salah satu kelemahan Indonesia, kita belum jadi negara maju seperti Korea, Jepang, atau masih kalah sama China, itu adalah lag of entrepreneurship, karena biasanya disebut sebagai UMKM itu kebanyakan bergerak di sektor tradisional, utamanya di perdagangan yang konvensional,” terangnya.
Games Edukasi
Menjalani bisnis digital sebelumnya dinilai tak mudah karena bukan hanya membutuhkan kemampuan teknologi informasi tetapi juga sarana pendukung memadai. Namun, kendala-kendala itu kini mulai teratasi dengan infrastruktur yang telah dibangun di beberapa daerah.
Kondisi itu dirasakan seorang pemuda bernama Andi Taru, pendiri Educa Studio dan GameLab, sebuah platform digital asal Salatiga Jawa Tengah. Bisnis digital yang semula hanya digawangi Andi Taru bersama istri Idawati sejak 2011, kini berkembang pesat dengan melibatkan 90 karyawan.
“Awalnya dulu hanya berbasis PC (personal computer), dengan media CD (compact disc). Tapi setelah 2013 itu seiring dengan masuknya Android dan koneksi internet yang lain baik, maka distribusi produk kami kami masif. Kita tinggal unggah ke Play Store,” kata dia.