Lulusan Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga ini menyampaikan, bisnis digital yang ditekuni yakni dengan pembuatan games edukasi. Bukan hanya permainan online, namun juga diselipi dengan materi-materi edukasi.
“Awalnya dulu saya punya adik kecil yang masih usia sekolah Paud dan orang tua saya yang bekerja sebagai guru. Nah karena saya hobi bikin games, maka saya buat games yang tidak hanya permainan tapi juga sekaligus belajar,” ujar bapak satu anak ini.
“Ternyata adik saya itu bisa belajar dengan cepat. Misalnya mengenal warna dengan games itu dia mudah kenal warna, termasuk mengenal angka dan penjumlahan juga bisa. Dari situ terus berkembang, untuk membuat games bagi anak Paud hingga SD,” ucapnya.
Dengan bertambahnya jumlah karyawan, maka produk yang dihasilkan juga semakin banyak. Tidak hanya untuk anak Paud dan SD, namun juga diciptakan aplikasi untuk pelajar SMK dan mahasiswa. Pada tahap ini, pelajar dan mahasiswa bukan tak sekadar jadi konsumen tetapi juga diajak untuk terlibat dalam pembuatan aplikasi.
“Sekarang ada sekira 150 SMK yang bekerjasama dengan kita, termasuk delapan perguruan tinggi mulai dari Sabang sampai Merauke. Jadi kita bina mereka baik siswa maupun guru, kita latih berikan edukasi,” katanya.
“Kalau sampai sekarang pengguna aplikasi kami berdasarkan yang diunduh itu ada sekira 78 juta. Kebanyakan memang masih di Indonesia, kalau pengguna dari luar negeri sekira 10 persennya. Semua produk kami sudah dwibahasa, jadi Indonesia dan Inggris,” lugasnya.
Ekosistem Digital
Pakar ekonomi Universitas Negeri Semarang (Unnes), Prof Sucihatiningsih, menyebut anak muda berperan penting pada era transformasi digital. Meski prospek startup digital ke depan sangat bagus, namun selain SDM, juga diperlukan infrastruktur pendukung seperti jaringan internet dan peralatan pendukung lainnya.
“Dalam hal ini pemerintah perlu memberikan support terutama akses internet yang merata di segala daerah untuk mendorong tumbuh kembangnya startup digital yang digawangi oleh anak-anak muda,” ujarnya.
Dia mengatakan, transformasi digital di era globalisasi juga tak lepas dari banyaknya kompetitor mancanegara yang ada di Indonesia. Namun keberadaan kompetitor mancanegara justru dapat dimanfaatkan untuk memotivasi sekaligus mengadopsi teknologi yang mereka gunakan agar dapat diserap untuk mengembangkan startup.
“Agar startup digital yang dimiliki anak bangsa mampu tumbuh dan berkembang, maka kiat pertama yang harus dilakukan adalah memberikan pelatihan dan pendampingan agar mampu menangkap peluang pasar. Selain itu, juga perlu dukungan infrastruktur pendukung dari pemerintah. Untuk kiat selanjutnya adalah, perlu adanya pengembangan kreativitas dan inovasi dari anak-anak muda agar mampu mengembangkan startup digital yang sesuai dengan perkembangan dan permintaan pasar,: saran dia.
Prof Suci juga menuturkan, perlunya ekosistem sebagai wadah anak-anak muda dan startup, untuk mendorong pertumbuhan ekonomi digital serta pembangunan nasional. Seperti di Hetero Space Semarang yang kini mewadahi sekira 10.000 anggota.
“Ekosistem yang dibangun Jateng tersebut tentu sangat efektif untuk mendukung perkembangan ekonomi digital. Karena wadah tersebut memberikan ruang dan peluang untuk saling bertukar pikiran bagi anak bangsa untuk meningkatkan pengetahuan dan kompetensi digital guna mendukung pengembangan startup digital. Jadi wadah tersebut perlu dipertahankan dan dikembangkan agar dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi anak bangsa. SDM yang sudah bagus harus dapat dikembangkan dan ditularkan ke SDM yang baru berkembang,” tegas dia.
Bappenas menyebut pada akhir 2030, demand pasar ekonomi digital diproyeksikan mencapai Rp4.800-5.400 triliun. Jumlah tersebut akan terus meningkat hingga nilai aktivitas ekonomi digital mencapai Rp22.513 triliun pada 2045.
“Di era industri 4.0 dan era society 5.0 saat ini perkembangan ekonomi digital sangat pesat. Perkembangan tersebut tentu akan menjadi peluang pasar yang besar bagi anak bangsa. Namun demand pasar ekonomi digital yang berkembang harus mampu didominasi oleh startup anak bangsa. Jangan sampai peluang tersebut ditangkap oleh kompetitor oleh startup asing. Anak muda harus mempersiapkan diri dari sekarang agar mampu mengembangkan startup digital yang berkelanjutan,” tandas Prof Suci.