"Goebbels dan Nazi sudah memproduksi ratusan film propaganda waktu itu, tetapi kali ini mereka ingin sesuatu yang berbeda," kata Profesor Robert Watson, sejarawan AS dan penulis The Nazi Titanic, sebuah buku tentang Cap Arcona, sebagaimana dilansir dari BBC Indonesia.
"Pada tahun 1942, Jerman menghadapi kemunduran yang cukup besar dalam perang dan Goebbels berpikir mereka perlu mencetak kesuksesan besar di bidang propaganda."
Petinggi Nazi itu terkejut dengan kesuksesan film Casablanca. Dirilis pada tahun yang sama, drama romantis Hollywood yang sangat sukses ini mempopulerkan narasi anti-fasis yang kuat, dan ini mengusik sang tokoh propaganda Jerman untuk beraksi.
Dengan versi tragedi Titanic yang sudah "dinazifikasi", Goebbels bercita-cita membalas Sekutu menggunakan cara serupa.
"Dia tidak mau berhemat dalam membuat film 'tanggapan' terhadap Casablanca ini, dan itu termasuk menggunakan replika kapal Titanic, yaitu Cap Arcona," imbuh Profesor Watson.
"Kedua kapal itu pada dasarnya sama, meskipun Cap Arcona hanya punya tiga cerobong asap, satu lebih sedikit dari Titanic. Tapi ia mendapatkan satu cerobong palsu ketika syuting."

SS Cap Arcona disulap menjadi Titanic pada film propaganda Nazi. (Foto: Getty Images)
Saat Jerman sedang kesulitan di tengah upaya perang, Goebbels mengalokasikan dana besar-besaran untuk produksi film.
Dalam bukunya, Prof Watson mengklaim bahwa Nazi menggelontorkan anggaran empat juta reichsmark — setara dengan sekitar USD180 juta (Rp2,8 trilun) saat ini, untuk memproduksi film Titanic versi Nazi yang menjadikannya sebagai salah satu film termahal yang pernah dibuat.
Ratusan tentara ditarik dari medan perang untuk berperan sebagai figuran dan film tersebut menampilkan beberapa bintang film paling terkenal di Jerman, seperti Sybila Schmidt.