Tak hanya itu, Hoegeng pun juga menyelidiki kasus dugaan penyelundupan mobil mewah Robby Tjahjady diduga melibatkan kroni Soeharto dan keluarga Cendana. Saat mendatangi Soeharto untuk menginformasikan penangkapan Robby, ia justru dicopot dari jabatan.
Lantaran aksinya itu, berbagai hukuman politik pun dijalani Hoegeng dengan tabah. Selain dipecat ia pun tak boleh menyanyi di stasiun televisi bahkan programnya yang disiarkan di salah satu stasiun televisi dihentikan.
2. Jenderal Besar TNI Dr. A. H. Nasution
Sebagai atasan Soeharto, Nasution diketahui memiliki hubungan pasang surut dengan juniornya. Konflik keduanya bermula saat Soeharto melakukan penyelundupan beberapa komoditas bersama pengusaha asal Tionghoa.
Saat duduk di kursi kepemimpinan RI, konflik keduanya tak bisa dibendung lagi. Itu terjadi karena Soeharto membubarkan MPRS.
Saat Nasution membuat buku kesan pesan selama ia menjadi pemimpin MPRS, Soeharto memerintahkan aparat untuk membakar buku tersebut beserta gudangnya. Tak sampai situ, gerak-geriknya juga diawasi oleh aparat dan dicekal untuk menjadi pembicara di kampus-kampus.
3. Letnan Jenderal KKO Ali Sadikin
Berbeda dengan yang lainnya, konflik antara mantan Gubernur DKI Jakarta dan penguasa orde baru itu dimulai setelah Ali Sadikin pensiun dari dunia militer dan pemerintahan. Kala itu, ia dan beberapa pensiunan jenderal besar menggagas keprihatinan terkait pidato Soeharto pada 1980-an.
Dari Petisi 50 itu, Soeharto pun marah dan menyuruh Kopkamtib untuk menangkapnya. Lantaran, pimpinan Kopkamtib, Sudomo tak mau menangkap Ali Sadikin, alhasil mantan gubernur itu dicekal.
Ali Sadikin dipersulit saat membawa sang istri berobat di rumah sakit. Tak hanya itu, kala hendak berangkat haji, ia pun dicekal oleh petugas Imigrasi, dicekal dari perayaan semua pemerintah yang ada.
4. Mayor Jenderal TNI Pranoto Reksosamodra
Konflik antara Pranoto dan Soeharto bermula saat keduanya ada diujung pimpinan Tentara Teritorium (TT) IV Diponegoro. Kala itu, Soeharto diketahui melakukan penyelewengan dengan melakukan kegiatan ilegal dengan menggunakan truk milik TT IV.
Konflik keduanya pun kembali terjadi saat keduanya mendapat tugas penyelamatan penculikan Jenderal A. Yani selaku Menteri Panglima Angkatan Darat (Menpangad). oleh PKI. Saat itu, Pranoto yang mengemban tugas sebagai Asisten III Menpangad bidang personalia, tak dapat menghadap presiden Soekarno lantaran dihalangi oleh Soeharto yang sudah mengambil alih pimpinan TNI AD.
Soeharto pun mematikan karier Pranoto. Pada 16 Februari 1966, ia ditangkap dengan tuduhan terlibat G30SPKI. Pranoto pun ditahan di Rumah Tahanan Militer Blok P Kebayoran Baru Jakarta Selatan, lalu dipindahkan ke Inrehab Nirbaya, dan terakhir di Rumah Tahanan Budi Utomo.