Keajaiban Circe
Ketika Odysseus dan anak buahnya berhadapan dengan penyihir Circe, mereka dibius dan digantung seperti babi. Untungnya Odysseus terlindungi dari mantra-mantra sang penyihir setelah memakan rempah suci yang disebut moly.
Para ahli botani merujuk pada ganggang jimson (Datura stramonium) sebagai bahan yang menyebabkan para pelaut bertingkah begitu aneh. Tumbuhan itu masih satu keluarga dengan tumbuhan belladonna dan solanaceae yang mematikan, dan mengandung racun alkaloid yang memblokir neurotransmiter dalam otak. Jika dimakan, tumbuhan itu dapat menyebabkan halusinasi, mengigau, dan amnesia karena otak harus berjuang mengirim dan menerima pesan.
Homer menjelaskan moly dengan sangat spesifik: memiliki akar hitam dan bunga putih. Tetapi tanaman semacam itu cukup umum sehingga ada banyak diskusi mengenai identitas moly. Berdasarkan kemampuannya untuk menetralisir pengaruh obat yang dihidangkan Circe, para peneliti mempercayai bahwa snowdrop (Galanthus nivalis) merupakan kemungkinan yang mendekati.
Bunga snowdrop umumnya tumbuh di wilayah Mediteranea an mengandung galantamine, yang melawan efek keracunan stramonium. Para ilmuwan telah mempelajari tangman ini sejak tahun 1950an. Saat ini tanaman itu digunakan untuk pengobatan Alzheimer dan pikun, karena bunga itu dapat membantu menyeimbangkan zat-zat kimia dalam otak.
Scylla
Para pelaut kemudian menghadapi lawan yang lebih mengerikan lagi ketika mereka melewati selat yang sempit. Mereka berhadapan dengan Scylla, sesosok monster berkepala banyak yang sangat menganggu. Homer menggambarkan binatang buas yang tinggal di gua ini memiliki 12 kaki dan 6 leher, masing-masing dengan kepala ganas dan tiga baris gigi.
Seiring waktu, Scylla menjadi tercampur dengan kraken - sehingga semua leher dan kaki menjadi tentakel. Tetapi cumi-cumi raksasa merupakan suatu hal yang jarang ditemui di Mediterania dan di samping itu, Scylla tinggal di gua yang tersempil di tebing. Lokasi itu jelas bukan habitat untuk seekor spesies samudera.
Polycephaly adalah istilah biologi untuk makhluk berkepala banyak. Meski hal ini jarang terjadi pada manusia, namun hal ini sering terjadi pada reptil. Kerusakan embrio diperkirakan merupakan penyebab terbelahnya sel sehingga menyebabkan dua kepala tumbuh, atau melebur sehingga embrio kembar sebagian bergabung.
Aristoteles mencatat keberadaan ular berkepala dua pada 350 Sebelum Masehi. Adapun bukti hidup tertua spesies semacam itu adalah sebuah fosil embrio kadal dari Cretaceous di Cina. Walau usia satwa berkepala dua atau lebih relatif pendek, mungkin saja Homer pernah mendengar hal itu, atau bahkan melihatnya.
Dalam kisah Odysseus diceritakan pula penggunaan ular sebagai senjata biologis. Setidaknya ada satu catatan sejarah mengenai pelepasan ular-ular selama peperangan di laut, yaitu ketika Hanibal memerangi Eumenes. Ahli hewan, Gianni Insacco, dari Natural History Museum di Milan menunjukkan bahwa orang Yunani kuno mungkin telah menggunakan taktik ini juga. Insacco adalah bagian dari tim yang menemukam boa pasir Javelin di Sisilia, satu spesies yang diperkirakan telah diperkenalkan di pulau oleh orang Yunani untuk keperluan ritual dan perang.
Sementara tidak monster Scylla tidal dikenal, pencipta kisah Odysseus dengan ahli menggabungkan para pelaut yang stress, kegelisahan kita dengan perkembangan biologis yang tidak biasa dan ancaman ular-ular untuk menciptakan cerita yang menyeramkan.