Charybdis
Odysseus dan anak buahnya berada di antara karang dan kondisi sulit, karena di sebelah Scylla terdapat Charybdis. Kolam arus yang sangat besar ini menelan air laut dan apapun yang berlayar di atasnya.
Mungkin hal ini mengejutkan bagi Anda bahwa Charybdis ada pada peta laut abad ke 19, di ujung timur laut Sisilia di Selat Messina. Sebagai celah sempit antara Pulau Sisilia dan Smenanjung Italia, area itu dikenal dengan angin dan arus yang kuat.
Tetapi aktivitas pasang surut di selat lah yang merupakan tantangan bagi para pelaut. Gelombang di Laut Tyrrhenian di sebelah utara selat berbeda arah dengan gelombang di Laut Ioanian di selatan. Hasilnya arus yang bergejolak ketika kedua gelombang itu bertemu.
Sebuah bukit bawah laut di Selat Messina juga berkontribusi pada kekacauan itu, ketika arus menarik air dingin dari kedalaman ke permukaan. Tergantung pada aktivitas pasang surut, ombak bisa menjadi seperti kolam arus, yang juga disebut pusaran vertikal. Menurut ahli oseanografi, salah satu yang terbesar muncul di Capo del Faro, tempat di mana Charybdis ditandai secara historis.
Meskipun bahaya-bahaya ini dapat dilayari bagi kapal yang modern saat ini, tempat ini tentu saja lebih berbahaya pada masa Homer masih hidup.
Ternak Matahari
Odysseus dan anak buahnya akhirnya mendarat di pulau Thrinacia, di mana dewa Matahari menggembalakan ternaknya. Hewan-hewan ini suci tetapi tidak menghalangi para anak buah yang bodoh itu memburu mereka, terutama ketika perbekalan menipis.
Para akademisi telah menunjukkan bahwa pulau itu bisa jadi Sisilia yang sekarang. Ada bukti-bukti keberadaan ternak yang dipelihara dan kerabat mereka yang liar, auroch (Bos primigenius), di situs-situs Neolithik, menurut pakar sejarah Jeremy McInernery dari University of Pennsylvania, Amerika Serikat.
Dari kedua spesies ini, auroch yang liar lebih menyolok. Tingginya mencapai 1,5 meter jika diukur dari bagian tertinggi di punggung. Hewan itu memiliki "alis yang luas" dan "tanduk melengkung" yang besar", sebagaimana dijelaskan Homer. Ternak juga sangat berharga pada masa Yunani kuno.
"Bukti dari beberapa situs memperlihatkan bahwa di Zaman Besi ternak dihargai sangat tinggi: untuk daging, untuk berladang, dan untuk produk-produk lain seperti kulit dan mungkin lemak," kata McInerney.
"Sebelum koin uang mencapai Yunani pada abad ke 6, ternak merupakan ukuran utama kekayaan. Sama seperti masyarakat peternakan lainnya, orang-orang Yunani ditandai kekayaannya dengan ternak: oleh karena itu perampokan ternak ditekankan pada puisi-puisi terkenal."
Hukuman bagi pencuri ternak dewa Matahari sungguh brutal. Zeus menghancurkan kapal-kapal dan para pelaut dengan kilat dan hanya Odysseus yang selamat untuk menceritakan kisahnya yang tersohor ini. Buktinya, inilah yang masih kita pelajari saat ini.
(Erha Aprili Ramadhoni)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.