Share

Amnesty: Tanggapan Barat terhadap Ukraina Ungkap Standar Ganda

Rahman Asmardika, Okezone · Rabu 29 Maret 2023 17:05 WIB
https: img.okezone.com content 2023 03 29 18 2789574 amnesty-tanggapan-barat-terhadap-ukraina-ungkap-standar-ganda-a286w5nf2b.JPG Foto: Reuters.

KEMARAHAN global atas invasi Rusia ke Ukraina tahun lalu justru mengungkapkan “standar ganda” Barat terhadap pelanggaran HAM di seluruh dunia, kata Amnesty International, Selasa (28/3/2023).

Dalam laporan dunia tahunan untuk tahun 2022, Amnesty menunjuk pada apa yang disebutnya kebungkaman Barat terhadap catatan HAM Arab Saudi, penindasan di Mesir dan perlakuan Israel terhadap warga Palestina.

Sekjen Amnesty Agnes Callamard, sewaktu mempresentasikan laporan kelompok itu di Paris mengatakan, “Tanggapan sangat besar mengenai agresi Rusia terhadap rakyat Ukrainalah yang menyoroti miskinnya dan lemahnya tanggapan terhadap krisis lain.”

Ia menambahkan, "Tanggapan luar biasa Barat atas invasi Rusia terhadap Ukraina menegaskan standar ganda, memperlihatkan betapa entengnya reaksi mereka atas begitu banyak pelanggaran lainnya terhadap Piagam PBB,” demikian dilansir dari VOA Indonesia.

Serangan Rusia yang dimulai pada 24 Februari 2022 “memberi kita semua gambaran yang sangat langka mengenai apa yang mungkin terjadi kalau ada kemauan politik untuk bertindak” ketika Barat bersatu mendukung Ukraina, lanjutnya.

Banyak negara menerapkan sanksi terhadap Moskow dan membuka perbatasan mereka bagi pengungsi Ukraina setelah invasi, sementara Mahkamah Kejahatan Internasional meluncurkan investigasi mengenai kejahatan perang di Ukraina.

Tetapi Amnesty mengatakan, konflik di Ukraina telah menyoroti kurangnya tanggapan terhadap pelanggaran di berbagai bagian lain dunia.

Amnesty menyoroti “kebungkaman Barat yang sangat menyolok terhadap catatan HAM Arab Saudi, kelambanan terkait Mesir dan penolakan untuk menghadapi sistem apartheid Israel terhadap warga Palestina.”

Follow Berita Okezone di Google News

Amnesty, sesama organisasi pengawas HAM Human Rights Watch dan seorang pelapor khusus PBB telah menyimpulkan bahwa perlakuan Israel terhadap warga Palestina sama dengan kebijakan apartheid - segregasi warga kulit hitam dan kulit putih di Afrika Selatan yang diperintah orang kulit putih - tuduhan yang dibantah oleh pemerintah Israel.

Tahun lalu, “pemerintah-pemerintah Israel meluncurkan langkah-langkah yang memaksa lebih banyak lagi orang Palestina meninggalkan rumah mereka, memperluas permukiman ilegal, dan melegalisasi permukiman yang telah ada serta permukiman terpencil di seluruh wilayah pendudukan Tepi Barat,” kata Amnesty.

Tetapi terlepas dari itu – dan pasukan Israel yang membunuh warga Palestina di wilayah Tepi Barat yang diduduki – negara-negara Barat gagal menuntut diakhirinya “sistem penindasan” tersebut, kata Amnesty.

Tidak ada Cetak Biru 

Di Arab Saudi, para aktivis HAM terus merana di penjara, orang-orang dipenjarakan karena opini mereka setelah “persidangan yang sangat tidak adil,” 81 lelaki dihukum mati dalam satu hari, dan migran tewas dalam tahanan.

Di Mesir, kata Amnesty, ribuan pembela HAM, jurnalis, demonstran dan mereka yang dituduh sebagai pembangkang, mendekam di balik terali besi, dan “penganiayaan terus merajalela.”

Meskipun negara-negara Eropa menyambut pengungsi Ukraina, mereka tidak menunjukkan kemurahan hati serupa terhadap orang-orang yang mengungsi untuk menghindari perang di Suriah, Afghanistan dan Libya, kata Amnesty.

AS juga menyambut baik orang-orang Ukraina, “namun di bawah kebijakan dan praktik yang berakar pada rasisme antikulithitam, AS mengusir lebih dari 25 ribu orang Haiti antara September 2021 dan Mei 2022, dan banyak di antaranya yang mengalami penyiksaan dan perlakuan buruk lainnya,” kata organisasi itu.

Di Iran, “perempuan meninggal karena menari, menyanyi, karena tidak mengenakan cadar” sementara orang-orang bangkit sebagai protes terhadap sistem Israel di negara itu, kata Callamard.

Amnesty juga menekankan kegagalan berbagai institusi global “dalam menanggapi secara memadai berbagai konflik yang menewaskan ribuan orang termasuk di Ethiopia, Myanmar dan Yaman.”

Perang di Ukraina “mengalihkan sumber daya dan perhatian dari krisis iklim, konflik lama lainnya dan penderitaan umat manusia di seluruh dunia,” kata Amnesty.

“Tidak ada bukti yang ditemukan pada 2022, bahwa tanggapan internasional terhadap krisis Ukraina akan menjadi cetak biru bagi tanggapan yang konsisten dan koheren terhadap konflik dan krisis,” jelas Callamard.

1
3
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis Okezone.com tidak terlibat dalam materi konten ini.

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini