Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Ketika Pejuang Indonesia Digempur Belanda saat Puasa, Semangatnya Tak Kendor!

Arief Setyadi , Jurnalis-Sabtu, 22 April 2023 |10:00 WIB
Ketika Pejuang Indonesia Digempur Belanda saat Puasa, Semangatnya Tak Kendor!
Prajurit Belanda (Foto: Wikipedia)
A
A
A

BANGSA Indonesia diserang Belanda dalam Operasi Produk (Operatie Product) atau lebih dikenal dengan nama Agresi Militer Belanda I. Serangan terjadi ketika bangsa Indonesia yang beragama Islam sedang menjalankan puasa Ramadhan 1366 H.

Serangan dilakukan Belanda di bawah komando Letnan Gubernur Jenderal Johannes Van Mook. Hasil perundingan Linggarjati pada 25 Maret 1947 tidak berlaku lagi.

Pada 20 Juli malam, Legercommandant Letjen Simon Hendrik Spoor memerintahkan pasukan elitenya untuk melakukan pengepungan dan penangkapan lebih dulu sebelum Agresi dilakukan pada 21 Juli 1947.

Kantor dan instansi pemerintah RI direbut Belanda. Salah satunya, Kantor Penghubung Tentara Republik Indonesia (TRI, kini TNI) di Jalan Cilacap Nomor 5, Jakarta Pusat. Sementara para penghuninya ditangkapi dan dibuang ke Penjara Bukit Duri.

Esok harinya, pada 21 Juli operasi besar-besaran dilakuan Belanda. Berbagai daerah berusaha dikuasai Belanda. Garis demarkasi di Bekasi, diterobos dengan bantun milisi lokal pengkhianat pimpinan H Pandji, HAMOT (Hare Majesteit's Ongeregelde Tropen).

Serangan Belanda meluas hingga wilayah repuvlik di Sumatera, dan Aceh. Serangan diawali dengan pesawat Belanda yang terbang rendah sambil menyebarkan pamflet.

Isi Pamflet itu bentuk propaganda ahwa pemerintah republik menghalangi kerjasama dan mengorbankan rakyat. Kehadiran pesawat Belanda itu juga mengagetkan warga Aceh.

Tak tinggal diam, bersama elemen-elemen perjuangan, TRI membentuk pos-pos pertahanan di pesisir. Kondisi puasa tak menyurutkan semangat juang anak bangsa dalam melawan penjajah. Bahkan, Belanda tak menyangka karena mengira perlawanan republik akan melemah ketika bulan puasa.

“Jadikanlah ibadah puasa sebagai jembatan untuk mempertebal iman dan perjuangan,” cetus Residen Aceh dalam ‘Kronik Revolusi Indonesia Jilid III (1947)’ oleh Pramoedya Ananta Toer, Koesalah Soebagyo dan Ediati Kamil.

(Arief Setyadi )

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement