Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Ingin Proklamasi Kemerdekaan Lebih Awal, Para Pemuda Nekat Culik Soekarno-Hatta

Susi Susanti , Jurnalis-Kamis, 22 Juni 2023 |07:01 WIB
Ingin Proklamasi Kemerdekaan Lebih Awal, Para Pemuda Nekat <i>Culik</i> Soekarno-Hatta
Soekarno-Hatta (Foto: Istimewa/Okezone)
A
A
A

Hatta yang tidak tahan mendengar tangisan bayi, lantas menggendong Guntur keluar dan memangkunya. Saat itu Guntur mengompoli Bung Hatta.

Bung Karno, Bung Hatta, Fatmawati dan Guntur Soekarnoputra kemudian ditempatkan di sebuah rumah milik orang Tionghoa. Oleh para pemuda, rumah tersebut telah dikosongkan.

Bung Karno sempat terbujuk rencana para pemuda, bahwa prajurit Peta dan Heiho akan melakukan pemberontakan di Jakarta.

Namun kemudian Bung Karno kembali berubah pikiran.

Soekarno juga mengatakan kepada Sukarni, tanggal 16 bukan waktu yang cocok untuk mengumumkan proklamasi.

Sebaiknya kemerdekaan diumumkan pada hari Jumat, tanggal 17 yang kebetulan dalam penanggalan Jawa, Jumat Legi.

Sementara itu di Jakarta, hilangnya Bung Karno dan Bung Hatta telah diketahui Ahmad Soebardjo dan langsung mengabarkan kepada Laksamana Maeda.

Maeda khawatir Soekarno-Hatta ditangkap Kempeitai. Setelah dilacak ke sana-sini, termasuk menghubungi pemuda Wikana, termasuk mengatakan dirinya bersimpati dengan nasionalis Indonesia serta mendukung proklamasi kemerdekaan, para pemuda akhirnya mengaku jika Bung Karno dan Bung Hatta telah dibawa ke Rengasdengklok.

Soebardjo kemudian diminta Maeda untuk menjemput Bung Karno dan Bung Hatta. Para pemuda menunjuk Joesoef Kunto untuk mendampingi Soebardjo.

Sekitar pukul enam sore, dua mobil dari Jakarta tiba di Rengasdengklok. Setelah melalui negosiasi yang cukup alot, Sukarni akhirnya bersedia kembali ke Jakarta bersama orang-orang yang diculiknya.

Di tengah perjalanan mendekati Jakarta, mereka melihat kepulan asap membumbung tinggi. Sukarni bersorak.

Dengan seruan kemenangan ia berteriak,”Lihat, lihat, Revolusi sudah mulai, revolusi sudah mulai, persis seperti kami janjikan. Jakarta sudah terbakar!”.

Rombongan pun mendekati sumber asap yang membumbung tinggi itu. Begitu dekat, mereka melihat seorang petani sedang membakar sampahnya.

Asap yang bergelung-gelung itu bukan berasal dari api revolusi terbakarnya Jakarta, melainkan dari sampah yang terbakar.

Dalam buku ‘Soekarno Biografi 1901-1950’, disebukan Soekarno menertawakan Sukarni yang ternyata kecele.

“Dan bagaimana kira-kira nasib kita di Jakarta sekarang?,” tanya Bung Karno dengan nada mengejek.

Sekitar tengah malam rombongan tiba di Jakarta. Fatmawati dan Guntur diantar pulang ke rumah dan yang lain langsung menuju rumah Laksamana Maeda.

Lalu besoknya pada 17 Agustus 1945, Soekarno-Hatta mengumandangkan Proklamasi Kemerdekaan RI di Jalan Pegangsaan Timur, 56 Jakarta.

(Susi Susanti)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement