CHINA – Kepala lembaga 'think tank' Amerika Serikat (AS) Gal Luft telah didakwa bertindak sebagai agen China dan berusaha menengahi penjualan senjata dan minyak Iran.
Jaksa federal mengatakan Luft setuju untuk secara diam-diam merekrut dan membayar seorang mantan pejabat AS yang tidak disebutkan namanya untuk secara terbuka mendukung kebijakan China tertentu.
Pria berusia 57 tahun itu diduga berusaha menengahi penjualan senjata yang melibatkan pelanggan di China, Libya, Uni Emirat Arab (UEA), dan Kenya.
Namun akun Twitter yang terkait dengannya membantah dia adalah penjual senjata.
Jaksa federal di Manhattan, pada Senin (10/7/2023), mengatakan Luft, warga negara gabungan AS dan Israel, dianggap sebagai buronan.
Dia diduga telah melobi seorang mantan pejabat AS yang merupakan penasihat Presiden terpilih Donald Trump untuk meyakinkannya agar "secara terbuka mendukung kebijakan tertentu sehubungan dengan China".
Luft dilaporkan telah menulis draf komentar atas nama pejabat AS yang tidak disebutkan namanya, yang kemudian diterbitkan di media China dan dikirim ke universitas-universitas Amerika.
Luft adalah co-direktur Institut Analisis Keamanan Global, yang berbasis di luar Washington DC dan menggambarkan dirinya berfokus pada energi dan keamanan AS.
Menurut situs webnya, lembaga itu didirikan bersama oleh Mr Luft dan mencantumkan mantan Direktur CIA James Woolsey sebagai penasihat.
Jaksa juga menuduhnya mencoba menengahi penjualan senjata tanpa izin AS. Dia diduga bekerja untuk membantu perusahaan China menjual peluncur anti-tank, peluncur granat, dan mortir ke Libya.
Dia juga diduga berusaha menjual "bom udara dan roket" ke Uni Emirat Arab (UEA) dan drone "serang" ke Kenya.
Pejabat federal mengatakan dia berusaha untuk melewati sanksi AS terhadap minyak Iran dengan mengarahkan seorang rekanan untuk mengatakan bahwa minyak itu berasal dari Brasil.
Menurut jaksa, Luft ditangkap di Siprus atas tuduhan AS pada 17 Februari lalu dan melarikan diri setelah dibebaskan dengan jaminan sambil menunggu ekstradisi.
Sehari kemudian, akun Twitter atas namanya dengan 15.000 pengikut mengatakan dia telah ditangkap di Siprus "atas permintaan ekstradisi bermotivasi politik oleh AS".
Dia didakwa dengan delapan dakwaan, termasuk gagal mendaftar sebagai agen asing, menghindari sanksi minyak, dua dakwaan membuat pernyataan palsu kepada penyelidik dan tiga dakwaan perdagangan senjata ilegal. Dia menghadapi puluhan tahun penjara jika terbukti bersalah.
Pada 2016, para pejabat mengatakan dia gagal mendaftar sebagai agen asing saat bertindak untuk memajukan kepentingan China di AS.
(Susi Susanti)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.