JAKARTA - Musim kemarau ekstrim saat ini rupanya membawa dampak yang cukup serius bagi para petani di Rorotan, Cilincing, Jakarta Utara. Mereka menjerit karena padi yang ditanam beberapa hari langsung mati.
Pantuan di lokasi, persawahan Rorotan yang mengalami kekeringan cukup luas. Lahan-lahan yang seharusnya hijau kini berubah kecoklatan lantaran tanahnya kini kering.
Bahkan, tak sedikit area yang kondisi tanahnya sampai berkerak karena sama sekali tidak mendapatkan asupan air. Kekeringan ini terjadi, akibat musim kemarau yang cukup ekstrem ditambah adanya fenomena El Nino.
Ketua Gabungan Kelompok Tani Maju Rorotan Sirojuddin Abas mengatakan bahwa, matinya padi diduga akibat musim kemarau ekstrim yang dibarengi fenomena El Nino dan ditambah minimnya air yang tak mengairi irigasi dengan baik.
"Saat ini kita sedang dalam rangka menghadapi El Nino, ya artinya kekeringan dan udah ada beberapa dampak di pertanian kita, salah satunya lahan yang baru tanam umur 9 hari kondisinya kekeringan parah," Kata Abas di konfirmasi, Jumat (11/8/2023).
Abas menjelaskan, jika kondisi cuaca sedang baik. Satu hektar lahan bisa menghasilkan 6 ton padi, bahkan dalam setahun, petani di Rorotan bisa panen dua kali. Namun, dengan cuaca saat ini dan hujan jarang turun.
Dikatakan Abas, dalam rangka menghadapi ancaman kekeringan ini, para petani mulai melakukan berbagai upaya. Seperti mengambil air dari sisa-sisa penggunaan warga. Namun hal ini tidak semudah yang dilakukan.