Dalam satu minggunya, keluarganya telah menghabiskan sebanyak 6 hingga 7 galon air yang dibeli seharga Rp5.500.
"Jadi 6 sampai 7 galon air itu, khusus kami gunakan hanya untuk memasak dan minum saja. Sedangkan, untuk mandi dan cuci pakaian atau cuci piring, kami ngambil airnya dari kolam MCK mushola. Iya, meskipun airnya kolam tidak bersih, tapi mau bagaimana lagi, tidak ada pilihan lain," ujar Ade.
BACA JUGA:
Sementara itu Kepala Desa Kebonpedes, Dadan Apriandani mengatakan, darurat krisis air bersih di wilayah kampung tersebut, telah dialami sebanyak 75 Kepala Keluarga (KK) dengan jumlah jiwa sekitar 150 orang.
"Air kolam itu, bersumber dari saluran air Sungai Cimuncang. Jadi, kondisinya agak lumayan tidak terlaku kuning, jika dibandingkan air sumur. Tapi, yah begitu sebenarnya itu tidak layak. Karena, dikhawatirkan dapat berdampak buruk terhadap kesehatan warga," ujar Dadan.
Adapun, solusi untuk permasalahan tersebut, lanjut Dadan, diperlukan pembangunan sumur bor dengan kedalaman minimal 30 meter untuk mendapatkan air yang bersih dan jernih. Sebab jika kurang dari 30 meter kedalamannya, airnya tidak jernih atau menguning dan jika dilanda kemarau panjang, airnya akan kering.
(Nanda Aria)