PEMBANTAIAN anggota Partai Komunis Indonesia (PKI) dan yang disangka PKI, serta seluruh pendukung gerakan kiri di Indonesia pada 1965-1966, merupakan salah satu tragedi kemanusiaan terbesar yang terjadi pada abad ke-20.
Korban pembunuhan dalam peristiwa itu melebihi korban jiwa dalam serangan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki, dan melebihi jumlah korban perang Vietnam selama bertahun-tahun. Mencapai angka 78.000 jiwa, 500.000 jiwa hingga tiga juta jiwa.
Dinas rahasia Amerika Serikat (AS) Central Intelligence Agency (CIA) disebut-sebut turut terlibat dalam perburuan dan pembantaian itu dengan menyerahkan daftar maut yang berisi 5.000 pengurus PKI di tingkat daerah dan pusat. Adalah Robert J Martens, agen CIA yang menjabat Perwira Politik di Kedutaan Besar (Kedubes) Amerika di Jakarta yang berhasil menyusun daftar itu sejak 1963-1965.
Daftar nama itu didapat dari sekutu mereka orang Indonesia. Deputi Kepala CIA di Jakarta Joseph Lazarsky mengatakan, data tersebut didapat dengan bantuan seluruh pegawai CIA dan secara berkala diserahkan kepada agen mereka yang menjadi ajudan Adam Malik, Tirta Kencana (Kim) Adhyatman. Dari Adam Malik, daftar nama pengurus PKI itu lalu diserahkan ke Soeharto untuk "dibereskan".
Setiap perkembangan mengenai siapa saja yang telah ditangkap dan dibunuh dalam daftar itu akan dilaporkan Ali Murtopo kepada CIA. Terungkapnya informasi ini muncul ketika Kathy Kadane, wartawati yang bekerja untuk States News Servis menerbitkan sebuah artikel di The Washington Post dengan judul "US Officials List Aided Indonesian Bloodbath in 60s". Selain di The Washington Post, tulisan yang sama juga muncul di New York Times dengan judul "CIA Tie Asserted in Indonesian Purge".
Laporan itu semakin diperkuat dengan dibukanya dokumen rahasia AS pada periode 1965-1966. Dalam laporan ini bahkan para pemimpin Partindo dan Baperki dinyatakan masuk ke dalam daftar yang harus ditangkap dan dibinasakan. Namun daftar itu dibantah oleh sejumlah pejabat CIA yang namanya disebut dalam dokumen rahasia. Bantahan datang dari Dubes AS di Jakarta Marshall Green dalam bukunya Indonesian Crisis and Transformation 1965-1968.
Menurutnya, sebab pembunuhan massal 1965-1966 masih belum jelas disengaja atau spontanitas masyarakat. Selain Green, Robert Martens juga menepis dugaan adanya daftar tersebut. Menurutnya, daftar itu tidak berhubungan dengan aktivitas CIA di Jakarta. Daftar itu, katanya diambil langsung dari penerbitan resmi PKI sendiri.