Jika bicara soal aspek spiritual, jangan dulu menyandingkannya dengan pemikiran-pemikiran logis. Apalagi, di zaman sekarang yang semua orang mesti mencari sisi logis dari satu peristiwa ganjil.
“Seperti saat saya pernah dengar cerita dari Tito Asmara Hadi, anaknya Asmarahadi yang jadi murid ideologis Soekarno. Dia menikahi Ratna Djuami, anak angkat Soekarno dari istri (pertama Soekarno) Inggit (Garnasih). Cerita soal dia (Asmara Hadi) mendampingi Soekarno di Pelabuhan Ratu,” kata Roso Daras.
“Dia (Asmara Hadi) itu Islamnya kuat, enggak percaya dengan yang mistik-mistik. Ketika Soekarno di Pelabuhan Ratu, dia berjalan sendiri di batu karang besar dan tiba-tiba ombak tinggi datang seperti tsunami. Tapi setelah itu Soekarno terlihat jalan kembali ke tepi pantai tanpa basah sama sekali,” imbuhnya.
“Asmara Hadi menyimpan cerita ini sejak lama sekali. Tapi akhirnya dia ceritakan pada anaknya Tito. Kisah yang kayak begini ini, enggak akan bisa kita mengerti tanpa memahami kehidupan spiritual. Memahami laku spiritualnya, sedikitnya harus paham spiritual itu sendiri. Enggak bisa dipikir logis otak anak-anak kekinian,” ujar Roso Daras.
Tongkat Komando
Tongkat komando yang selalu dipegang atau dikempit di lengan hingga dianggap orang punya kesaktian? Soekarno punya cerita sendiri di mana saat itu beberapa orang bertanya langsung.
Selain Menteri Transmigrasi dan Koperasi (Mentranskop) Achadi, Presiden Kuba (mendiang) Fidel Castro pun pernah menanyakannya. “Apa tongkat ini sakti seperti tongkat kepala suku Indian?,” tanya Castro pada Soekarno pada suatu ketika.
“Itu hanya kayu biasa yang saya gunakan sebagai bagian dari penampilan sebagai pemimpin dari sebuah negara besar,” jawab Soekarno.
Soekarno pribadi sedikitnya punya tiga tongkat komando. Satu yang lazim dibawa ke luar negerio, satunya lagi untuk dibawa saat bertemu para jenderalnya, sedangkan yang ketiga biasa dibawa kala berpidato.