Pilihan Muhaimin untuk berpasangan dengan Anies, kata Saiful, juga merupakan perkembangan baru dalam sejarah pemilihan presiden langsung di Indonesia. Dalam koalisi tersebut, ada Partai Keadilan Sejahtera (PKS).
Ia menyebut, PKB dan PKS pernah berkoalisi di bawah calon Susilo Bambang-Yudhoyono. Namun ketika itu, calon wakil presiden bukan dari PKB maupun PKS. Namun, kali ini, di pucuk koalisi ada Muhaimin yang menjadi calon wakil presiden dan didukung oleh PKS.
“Ini perkembangan yang sangat baru dan menarik,” ujar Saiful.
Saiful berpandangan, sangat penting untuk membedah peta politik pemilihan presiden di Jawa Timur untuk melihat efek dari perkembangan tersebut.
Sebagai perbandingan, SMRC juga melakukan survei nasional secara tatap muka persis setelah deklarasi Anies-Muhaimin pada Sabtu 2 September 2023. Survei nasional tersebut dilakukan pada 2 sampai 11 September 2023.
Survei dilakukan secara nasional, namun yang dianalisis adalah khusus di Jawa Timur. Dalam format tanpa pasangan pada simulasi tiga nama, Ganjar Pranowo mendapat dukungan 44 persen, Prabowo Subianto 23 persen, Anies Baswedan 14,2 persen, sementara yang tidak menjawab atau tidak tahu 18,8 persen.
Saiful menjelaskan, bahwa suara Anies di Jawa Timur tidak banyak berbeda dengan suaranya di tingkat nasional, bahkan cenderung lebih rendah. Pada survei sebelumnya (31 Juli -11 Agustus 2023), secara nasional Anies mendapatkan dukungan 20,4 persen.
Menurut Saiful, ini menunjukkan di Jawa Timur, di mana deklarasi Anies-Muhaimin itu dilakukan, tidak membuat Anies menguat untuk sementara ini. “Di Jawa Timur, Ganjar masih unggul, terutama dengan Anies dengan selisih dukungan sekitar 30 persen,” ungkapnya.