Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Sungai Cikeruh di Cileunyi Kering Kerontang Imbas Kemarau, Banyak Petani Gagal Panen

Gin Gin Tigin Ginulur , Jurnalis-Senin, 02 Oktober 2023 |16:15 WIB
Sungai Cikeruh di Cileunyi Kering Kerontang Imbas Kemarau, Banyak Petani Gagal Panen
Sungai Cikeruh kering kerontang imbas kemarau (Foto: MPI/Gin)
A
A
A

BANDUNG - Kemarau panjang yang melanda Kabupaten Bandung, Jawa Barat dalam beberapa bulan terakhir ini berdampak pada keringnya sejumlah sungai. Salah satunya Sungai Cikeruh yang melintasi wilayah Kabupaten Bandung dan Sumedang.

Pantauan di Desa Cileunyi Kulon Kecamatan Cileunyi dan Desa Tegalsumedang Kecamatan Tegallauar Kabupaten Bandung, Sungai Cikeruh mengalami kekeringan parah. Tak ada sedikit pun air yang tersisa di sungai tersebut.

Tampak warga menggembalakan ternaknya di sungai yang kering tersebut. Bahkan, menurut pengakuan sejumlah warga, sungai tersebut juga kerap dipakai anak-anak bermain bola.

"Sudah dari Maret kondisinya begini, karena gak ada hujan. Sekarang suka dipakai main bola sama anak-anak," kata Ketua RW 18 Desa Cileunyi Kulon Kecamatan Cileunyi Kabupaten Bandung, Senin (2/10/2023) siang.

Maman mengatakan, biasanya Sungai Cikeruh digunakan warga untuk mengairi sawah dan kebun warga. Namun karena saat ini kondisiya mengering, lanjut Maman, sawah dan kebun warga juga mengalami gagal panen.

Kekurangan sumber air untuk pengairan sawah juga dialami warga di Kampung Sapan Gudang, Desa Tegalluar, Kabupaten Bandung. Menurut Jaya Prayitno, warga setempat, kekeringan sudah dialami tiga bulan terakhir.

"Untuk masalah kekeringan ini ada tiga bulan sehingga menyebabkan kekurangan pada sumber air minum juga untuk pengairan sawah," kata Jaya.

Dia lantas menceritakan kondisi sawah yang dikelola kakak iparnya dengan luas sekitar 4 hektare. Biasanya, kata dia, dalam satu petak, panen padi yang diperoleh mencapai 3-6 karung. Namun saat ini, kata dia, satu petak hanya menghasilkan dua karung.

"Dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, ini memang yang terparah. Denga modal bibit, pengairan, dan pupuk, kerugian bisa sekitar 50 persen," ujar Jaya.

Sebelumnya, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung meningkatkan status darurat kekeringan dari siaga menjadi tanggap darurat di daerah tersebut, mulai 25 September 2023 hingga 14 hari ke depan.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Bandung Beny Sonjaya mengatakan, keputusan tersebut ditetapkan atas situasi sejumlah kecamatan dan desa yang terdampak kemarau dan El Nino serta mengakibatkan adanya bencana kekeringan dan krisis air bersih.

"Awalnya kita menetapkan status siaga, makanya kita kaji cepat untuk menaikkan status, menjadi status tanggal darurat dimulai dari tanggal 25 September 2023 sampai 8 Oktober 2023," kata Beny Sonjaya, Minggu (1/10/2023).

Beny mengatakan, status tanggap darurat juga dilakukan karenanya banyaknya warga yang mengajukan permohonan bantuan air bersih.

"Kita lihat juga dari banyaknya permohonan bantuan air bersih dari warga masyarakat dan banyaknya kebakaran lahan,” kata dia.

Apabila permintaan warga terhadap pasokan air bersih terus-menerus dilakukan akibat dampak kekeringan, pihaknya akan memperpanjang status tanggap darurat tersebut.

“Apabila adanya permohonan terus-terusan air bersih dari warga, kemungkinan bisa ditambah lagi status tanggap darurat daruratnya diperpanjang,” katanya.

Berdasarkan kajian risiko bencana kekeringan yang dilakukan BPBD Kabupaten Bandung, 27 kecamatan mengalami risiko sedang dan empat kecamatan risiko tinggi bencana kekeringan.

(Khafid Mardiyansyah)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement