Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Riwayat Pelabuhan Sunda Kelapa, Pusat Dagang Internasional yang Jadi Embrio Lahirnya Jakarta

Nanda Aria , Jurnalis-Jum'at, 27 Oktober 2023 |05:18 WIB
Riwayat Pelabuhan Sunda Kelapa, Pusat Dagang Internasional yang Jadi Embrio Lahirnya Jakarta
Pelabuhan Sunda Kelapa/Foto: Okezone
A
A
A

 

JAKARTA - Pelabuhan Sunda Kelapa di Jakarta jadi pusat perdagangan internasional di masa lampau. Kiprahnya tak lepas dari pertarungan tiga kekuatan besar, yakni Kerajaan Banten, Kerajaan Pajajaran, dan Kerajaan Portugis.

Sejarawan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Johan Wahyudi, mengisahkan bahwa agak sulit untuk menemukan catatan pasti terkait kapan aktivitas perdagangan di Pelabuhan Sunda Kelapa dilakukan. Namun demikian, sejarah mencatat bahwa aktivitas tersebut mulai hidup pada abad ke-15 di bawah Kerajaan Sunda atau Kerajaan Pakuan Pajajaran dengan kepercayaan Hindu kala itu.

 BACA JUGA:

Letak geografis yang sangat strategis untuk melakukan perdagangan menarik para pedagang dari penjuru Nusantara maupun berbagai belahan negara lain seperti Tiongkok, Arab, India, Inggris, dan Portugis untuk datang ke pelabuan tersebut.

Mereka membawa barang-barang berupa porselen, kopi, sutra, kain wangi-wangian, kuda, anggur, dan zat warna untuk ditukar dengan rempah-rempah yang menjadi kekayaan tanah air saat itu.

Berdasarkan penelitian Claude Guillot seorang penulis buku asal Prancis kata Johan, Kerajaan Pakuan Pajajaran yang kala itu menguasai Sunda Kelapa bergeser karena menguatnya ajaran Islam di Banten melalui Sunan Gunung Jati yang saat itu dipimpin oleh putranya yang dikenal sebagai Sultan Hasanuddin.

 BACA JUGA:

"Ketika Islam semakin berkembang di pedalaman sunda terutama di kawasan Banten Girang yang sekarang kawasan Serang itu mulai ada alih kekuasaan dari penguasa Budha (Kerajaan Pajajaran) menjadi muslim. Tokohnya Sultan pertama Banten, Sultan Hasanuddin dia adalah anak Sunan Gunung Jati kerajaan Cirebon," katanya kepada Okezone pada medio 2019.

Namun demikian, peralihan itu berlangsung bukan dengan peperangan, hal itu dikarenakan adanya hubungan baik antara Sultan Hasanuddin dengan anak dari Raja Pajajaran yakni Sri Mangana ata Ki Samadullah sehingga proses islamisasi berlangsung mudah dilakukan.

Belakangan hadirlah Kerajaan Portugis di Pelabuhan Sunda Kelapa yang memang sudah lebih dulu menginjakkan kaki di Malaka sejak tahun 1511. Malaka merupakan pusat induk perdagangan kala itu. Portugis kemudian datang ke Sunda Kelapa untuk melakukan perdagangan dan mendapat izin untuk mendirikan gudang sebagai tempat untuk menghimpun barang dagangannya.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement