Pada 1983 hingga 1993, Arafat tinggal di Tunisia, dan mulai mengalihkan pendekatannya dari konflik terbuka dengan Israel ke negosiasi. Lalu, pada 1988, ia mengakui hak Israel untuk eksis dan mencari solusi dua negara untuk konflik Israel-Palestina.
Pada 1994, ia kembali ke Palestina, dan menetap di Kota Gaza untuk mempromosikan pemerintahannya untuk wilayah Palestina. Dia terlibat dalam serangkaian negosiasi dengan pemerintah Israel untuk mengakhiri konflik antara pemerintah Israel dan PLO.
Setelah kematiannya pada 2004, Arafat menjadi sosok yang kontroversial, Masyarakat Palestina menganggap Arafat sebagai seorang martir yang melambangkan aspirasi nasional rakyatnya, sedangkan masyarakat Israel dan kelompok kiri PLO menganggapnya sebagai teroris dan koruptor.
(Rahman Asmardika)