Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan Al-Shifa telah mati listrik selama tiga hari. “Sayangnya, rumah sakit tersebut tidak lagi berfungsi sebagai rumah sakit,” katanya.
Juru bicara kementerian kesehatan yang dikuasai Hamas di Gaza, Dr. Ashraf al-Qidra, mengatakan pada akhir pekan bahwa unit perawatan intensif, departemen anak, dan peralatan oksigen tidak berfungsi.
Al-Shifa tidak sendirian. Pada Minggu (12/11/2023), Masyarakat Bulan Sabit Merah Palestina (PRCS) mengumumkan bahwa Rumah Sakit Al-Quds, fasilitas besar lainnya di Kota Gaza, tidak dapat digunakan lagi. PRCS mengatakan rumah sakit tersebut – yang terbesar kedua di Gaza – tidak lagi beroperasi. Penghentian layanan ini disebabkan oleh menipisnya ketersediaan bahan bakar dan pemadaman listrik.
Serangan udara Israel telah menewaskan sedikitnya 11.180 orang, termasuk 4.609 anak-anak dan 3.100 wanita, menurut Kementerian Kesehatan Palestina di Ramallah, yang mengambil data dari wilayah yang dikuasai Hamas. Setidaknya 28.200 orang terluka.
Dalam beberapa hari terakhir, 15 pasien meninggal di Al-Shifa, di antaranya enam bayi baru lahir, karena pemadaman listrik dan kekurangan pasokan medis.
Blokade Israel terhadap pasokan penting termasuk bahan bakar yang memasuki Gaza telah memperdalam krisis kemanusiaan karena rumah sakit, sistem air, toko roti, dan layanan lain yang bergantung pada listrik ditutup.
(Susi Susanti)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.