Dalam sebuah wawancara dengan media Die Welt, Bild dan Politico, Umerov menggambarkan upaya perekrutan tersebut sebagai "bukan sebuah hukuman" namun "sebuah kehormatan".
“Kami masih mendiskusikan apa yang harus terjadi jika mereka tidak datang secara sukarela,” ujarnya.
Namun kemudian juru bicara kementerian tampaknya menyangkal adanya unsur paksaan apa pun.
“Tidak ada diskusi mengenai agenda pemanggilan dari luar negeri,” kata Illarion Pavlyuk, dikutip media Ukraina.
“Menteri menyerukan seluruh warga Ukraina untuk bergabung dengan tentara, di mana pun mereka berada,” lanjutnya.
"Hanya karena Anda belum menerima surat panggilan, bukan berarti ancaman terhadap Ukraina telah hilang. Apakah itu berlaku bagi warga Ukraina di luar negeri? Tentu saja,” tambahnya.
Tidak ada pusat perekrutan di luar Ukraina, dan pihak berwenang Ukraina tidak mempunyai cara untuk memaksa siapa pun untuk menghadirinya.
Menteri Pertahanan mengatakan bahwa penting untuk bersikap adil, dengan memberikan informasi kepada anggota yang dimobilisasi bagaimana mereka akan dilatih dan diperlengkapi, kapan dan di mana mereka akan bertugas dan kapan mereka akan diberhentikan.
Zelensky menyatakan dalam konferensi pers akhir tahun pada Selasa (19/12/2023) bahwa saat ini terdapat 500.000 tentara Ukraina di garis depan.
Dia juga mengatakan ada masalah dengan rotasi dan hari libur. Saat ini wajib militer dan sukarelawan wajib bertugas hingga akhir perang, dan hanya diperbolehkan cuti 10 hari dalam setahun.
Sebagai perbandingan, Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan pekan ini ada 617.000 tentara Rusia yang ambil bagian dalam apa yang disebut “operasi militer khusus” di Ukraina.
BBC tidak dapat memverifikasi jumlah pasukan itu secara independen.
(Susi Susanti)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.