GAZA - Meskipun warga Gaza tengah menderita akibat perang Israel-Hamas, namun kenyataannya para pemimpin Hamas hidup dalam kemewahan.
Diketahui lebih dari 80 persen dari 2 juta penduduk Gaza hidup dalam kemiskinan sebelum serangan terhadap Israel pada tanggal 7 Oktober yang mengakibatkan pecahnya perang.
Melansir New York Post, tiga pemimpin utama kelompok Hamas memiliki kekayaan dengan total mencapai USD11 miliar atau setara dengan Rp172,5 triliun.
Tidak hanya itu, mereka menikmati fasilitas mewah di Emirat Qatar. Sudah sejak lama, Emirat menyambut dan menerima para pemimpin Hamas, bahkan menempatkannya di hotel dan vila mewah.
Mengutip The Arab Weekly, salah seorang pemimpin Hamas, Ismail Haniyeh, dikenal karena berjanji hidup sederhana setelah memenangkan pemilu Palestina 2006 dengan menekankan perjuangan bersenjata dan penghematan.
Namun sejak itulah, Haniyeh dan beberapa pemimpin Hamas lainnya meninggalkan Gaza dan hidup mewah di Turki dan Qatar. Dengan pemilu baru di depan mata, Hamas berjuang untuk mempertahankan prinsip-prinsipnya tanpa mengorbankan kenyamanan materi.
Kebijakan pemilu yang direncanakan oleh Presiden Mahmoud Abbas masih tidak pasti, tergantung pada kesepakatan antara Fatah dan Hamas untuk menyatukan Palestina yang terpecah belah.
Meskipun Hamas telah menguasai Gaza sejak 2007, citra mereka telah merosot karena kesulitan menyediakan layanan dasar bagi penduduknya. Kontribusi terhadap situasi ini adalah kepergian beberapa pemimpin Hamas dari Gaza.
Lantas, bagaimanakah kehidupan pemimpin Hamas di tahun 2024 ini? Menurut Defense of Democraties, tepat pada Rabu (10/01/2024), Pasukan Israel menggerebek rumah peristirahatan mewah wakil panglima militer Hamas di Gaza.
Diketahui properti Bureij milik Marwan Issa, terdapat perabotan dengan harga tinggi, halaman luas yang terawat, gazebo, taman, dan kolam renang besar. Marwan Issa adalah teroris yang ditetapkan oleh Amerika Serikat (AS) dan United Emirat (UE).
Seorang juru bicara Pasukan Pertahanan Israel (IDF), Avichay Adraee, telah mengunggah bukti foto dan video properti milik Issa di X. Unggahan tersebut menjadi bukti perbedaan kehidupan yang mencolok antara penduduk Gaza dengan pemimpin Hamas.
Dalam bahasa Arab, Adraee mengatakan bahwa ada bukti yang menunjukkan terputusnya hubungan antara kepemimpinan Hamas, termasuk para pemimpin sayap militer, hidup dalam kemewahan dan menikmati kekayaan besar, dengan mayoritas penduduk Gaza yang membutuhkan bantuan internasional.
Adraee menambahkan bahwa pemimpin Hamas berada dalam keadaan baik, sementara penduduk Gaza berada dalam penderitaan.
Menurut PBB, tingkat pengangguran di Gaza mencapai 47 persen. Bukannya mengalokasikan dana untuk membantu penduduk Gaza, Hamas malah menggunakan dana tersebut untuk mendukung infrastruktur teroris mereka, termasuk pengadaan senjata seperti senjata kecil, drone, dan roket.
Mereka juga membangun jaringan terowongan yang luas di bawah permukiman, sekolah, dan rumah sakit. Ketika ditanya mengapa Hamas tidak menggunakan dana tersebut untuk melindungi warga sipil Gaza, Marzouk menyatakan bahwa terowongan tersebut dibangun untuk melindungi para pejuang Hamas.
Marzouk menambahkan bahwa itu adalah tanggung jawab PBB dan Israel untuk menyediakan kebutuhan dasar dan perlindungan bagi warga sipil Gaza.
Berdasarkan analisis Direktur Senior Program Israel dan Jaringan Keamanan Nasional FDD, Enia Krivine, Hamas bukanlah pejuang kemerdekaan, melainkan seorang koruptor, yang kerap menyiksa perempuan dan anak-anak, bahkan menggunakan warga sipil sebagai perisai.
(Susi Susanti)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.