Selama bertahun-tahun, Israel khususnya pemerintahan Netanyahu telah menganggap jaringan berita Al Jazeera sebagai jaringan berita yang bias anti-Israel. Semenjak serangan Hamas di Israel pada tanggal 7 Oktober, kritik pemerintahan Netanyahu terhadap Al Jazeera semakin meningkat.
Melansir ABC News, perang Israel dengan Hamas di Gaza telah menimbulkan korban jiwa lebih dari 34.500 orang. Bagaimana gambaran penderitaan di Gaza yang disiarkan oleh Al Jazeera telah melemahkan kampanye Israel melawan Hamas dengan mengikis dukungan internasional terhadap perangnya. Selain itu, pendekatan editorial yang diambil Al Jazeera terhadap konflik tersebut juga sangat ditentang Israel karena didalamnya terkandung pernyataan oleh Hamas.
Melihat bagaimana Israel menentang serta melarang kehadiran media berita Al Jazeera tentu mendapat reaksi dari Al Jazeera sendiri dan portal berita lainnya seperti The Associated Press. Al Jazeera merasa keberatan dengan tindakan Israel yang menargetkan para jurnalis, terutama jurnalis Palestina yang dilaporkan lebih dari 140 jurnalis Palestina telah terbunuh sejak dimulainya perang. Saat pengeboman di Gaza pada tahun 2021, Israel juga pernah merobohkan blok perkantoran tempat beberapa media beroperasi seperti Al Jazeera dan The Associated Press.
Kehadiran Al Jazeera memberikan peranan terbesar di Gaza dibandingkan dengan media internasional lainnya. Hal ini karena Al Jazeera dapat meliput secara langsung bagaimana situasi perang Israel-Hamas yang sedang terjadi saat ini di Gaza. Israel tetap mengizinkan jurnalis asing untuk mengakses Gaza namun hanya melalui kunjungan pers yang dikontrol ketat serta dikoordinasikan oleh Israel.
(Susi Susanti)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.