CHINA - Sejak 2012, jumlah warga negara China atau Tiongkok yang mencari suaka terus meningkat, yakni total lebih dari 850.000 orang. Amerika Serikat (AS) adalah negara tuan rumah terbesar, dengan sekitar 88.000 pencari suaka asal Tiongkok dan 66.000 lainnya berstatus pengungsi.
Selama pandemi Covid-19, emigrasi Tiongkok meningkat secara keseluruhan, meningkat dari rata-rata 190.000 keberangkatan tahunan pada tahun 2010-an menjadi 310.000 pada tahun 2021 dan 2022. Menurut Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan AS, lebih dari 37.000 warga Tiongkok ditangkap karena melintasi perbatasan selatan AS secara ilegal pada 2023.
Jumlah tersebut hampir 10 kali lipat dari jumlah total pada tahun 2022 dan lebih dari dua kali lipat jumlah keseluruhan dekade sebelumnya. AS dianggap sebagai tujuan yang lebih menarik bagi sebagian migran Tiongkok, terutama pekerja berupah rendah karena pemulihan ekonomi yang kuat dari pandemi.
Meninggalkan Tiongkok adalah hal yang sulit, terutama bagi etnis minoritas dan kelompok yang teraniaya. Perjalanan dari Tiongkok dapat memakan waktu berbulan-bulan untuk perjalanan lintas benua dan dapat menghabiskan biaya hingga puluhan ribu dolar.
Melintasi delapan negara Amerika Latin untuk mencapai perbatasan selatan AS, para migran ini biasanya memulai perjalanan mereka di Ekuador, salah satu dari sedikit negara Amerika Latin yang menawarkan perjalanan bebas visa bagi warga negara Tiongkok.
Banyak juga yang terbang ke Istanbul atau Addis Ababa, yang tidak menimbulkan banyak masalah logistik, dan kemudian ke Ekuador. Dari sana, mereka melanjutkan ke Necoclí, sebuah kota di pantai utara Kolombia yang berfungsi sebagai landasan peluncuran untuk melintasi Darién Gap.
Yakni rute berbahaya berupa hutan lebat dan daerah rawa yang menghubungkan Amerika Tengah dan Selatan. Sepanjang perjalanan mereka, para migran ini terus-menerus menghadapi risiko perampokan, pelecehan, dan bahkan kematian. Perjalanan ini jelas tidak murah.
Habiskan Puluhan Ribu Dolar