Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

SPECIAL REPORT: Kisah American Dream, Tak Semulus Mimpi Hollywood

Susi Susanti , Jurnalis-Minggu, 16 Juni 2024 |11:24 WIB
SPECIAL REPORT: Kisah American Dream, Tak Semulus Mimpi Hollywood
A
A
A

Kejahatan terorganisir Tiongkok memainkan peran utama dalam emigrasi gelap dan telah menjalin hubungan yang lebih erat dengan kartel Amerika Latin yang mengendalikan rute migran. Rata-rata, biaya perjalanan dari Tiongkok ke perbatasan selatan AS antara USD10.000 dan USD20.000.

Hal ini sering kali melibatkan peminjaman uang dari geng-geng yang mengatur perjalanan tersebut dan membayarnya kembali beserta bunganya melalui pekerjaan di Amerika Serikat. Kesulitan mendapatkan visa AS sering disebut-sebut sebagai alasan untuk melakukan perjalanan yang mahal dan berbahaya tersebut.

Untuk melakukan perjalanan tanpa pemandu, para migran Tiongkok dilaporkan menghabiskan sekitar USD5.000 hingga USD7.000. Banyak dari mereka membayar biaya penyelundup hingga USD35.000, atau tiga kali lipat dari biaya yang biasanya dibayarkan oleh para migran dari Amerika Tengah atau Selatan.

Kemampuan untuk membayar biaya yang tinggi menunjukkan bahwa meskipun sebagian migran berasal dari latar belakang kelas pekerja, banyak juga yang berasal dari kelas menengah. Perjalanan juga tak selamanya mulus. Banyak penangkapan dari pemerintah AS. Di antara mereka yang ditangkap adalah pemilik usaha kecil, pendidik, dan bahkan mantan mahasiswa keuangan di Australia.

Mengapa Harus Eksodus ke AS?

Eksodus para warga China ini biasaya didorong oleh kombinasi ketidakpastian ekonomi dan kebebasan pribadi yang terbatas. Pertumbuhan ekonomi Tiongkok yang melambat, yang diperburuk oleh pembatasan ketat Covid-19 selama hampir tiga tahun, telah mendorong banyak orang mencari peluang di luar negeri.

Tingkat pengangguran kaum muda perkotaan baru-baru ini mencapai rekor tertinggi yaitu 20,4 persen, empat kali lipat tingkat pengangguran nasional, sehingga lulusan baru mempunyai prospek yang terbatas. Pemilik usaha kecil juga menderita karena usaha mereka berjuang untuk bertahan selama periode lockdown dan lemahnya permintaan konsumen.

Menurunnya kebebasan sosial dan beragama adalah faktor utama migrasi lainnya, seiring dengan terus berlanjutnya tindakan keras terhadap hak-hak LGBTQ, gerakan feminis, dan praktik keagamaan. “Hal ini disebabkan oleh ketidakpastian politik dan ekonomi,” kata Min Zhou, seorang profesor sosiologi dan studi Asia-Amerika di Universitas California, Los Angeles.

“Telah terjadi penurunan perekonomian Tiongkok. Masyarakat menjadi pengangguran, dan terdapat ketidakpuasan terhadap kebijakan pemerintah yang ketat,” lanjutnya. Ai Weiwei, seorang seniman dan aktivis pembangkang yang melarikan diri dari Tiongkok pada tahun 2015 karena penindasan, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa fenomena tersebut adalah tanda menurunnya kepercayaan terhadap pemerintah.

Sementara itu, dalam sebuah wawancara beberapa waktu lalu, mantan Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa warga negara Tiongkok yang tiba di AS dari perbatasan selatan kemungkinan sedang membangun pasukan. Para komentator sayap kanan berpendapat bahwa peningkatan kedatangan dan pencari suaka asal Tiongkok merupakan rencana memasukkan banyak mata-mata China ke AZ.

(Maruf El Rumi)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement