Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Sempat Ditentang Pendeta, Ini Makna Arca Gayatri Peninggalan Kerajaan Majapahit

Avirista Midaada , Jurnalis-Kamis, 04 Juli 2024 |07:03 WIB
Sempat Ditentang Pendeta, Ini Makna Arca Gayatri Peninggalan Kerajaan Majapahit
Arca Gayatri
A
A
A

GAYATRI merupakan putri Raja Kertanagara dari Kerajaan Singasari. Sosoknya konon berjasa dalam kejayaan Kerajaan Majapahit. Untuk menghormati jasa-jasanya, dibuatlah patung Gayatri yang ikonik.

Posisi patung Gayatri yang duduk layaknya sambil bersila, konon merupakan penampilan fisik Gayatri sebelum memutuskan jadi biksu atau tokoh agama. Posisi patung yang konon ada Arca Prajnaparamita identik dengan Gayatri.

Proses pembuatan patung Gayatri sendiri tak bisa lepas dari Raja Gajah Mada dan dua putri Gayatri, yakni Tribhuwana Tunggadewi dan Rajadewi Maharajasa. Keduanya dikisahkan bersekongkol untuk membelokkan gagasan peringatan tanpa sepengetahuan Gayatri sendiri.

Mereka ingin menampilkan sosok berbeda dari Gayatri sebagai tokoh yang masih hidup dan berada di puncak kecantikannya sebagai seorang perempuan, sebelum akhirnya mencukur habis rambutnya dan menjadi bhiksuni.

 BACA JUGA:

Sebagaimana dikutip dari buku "Gayatri Rajapatni Perempuan Dibalik Kejayaan Majapahit" dari Earl Drake, sang putri Gayatri ingin agar ibunya tetap hadir dalam ingatan anak cucunya kelak, mengingat Gayatri tak pernah berkuasa tetapi memiliki kepribadian dan andil penting dalam setiap keputusan Kerajaan Majapahit.

Pembuatan karya seni ini adalah cara penting untuk mengenang Gayatri, sekaligus mampu memancarkan keindahan raga dan jiwa Gayatri. Rencana pembuatan karya patung pun disusun oleh dua putrinya dan Gajah Mada.

Mereka pun memerintahkan seniman terbaik di negeri Majapahit kala itu untuk memahat patung seukuran tubuh Gayatri dari batu besar, keras, dan indah yang dapat ditemukan. Tingkat kekerasan batu akan memperlambat proses pemahatan, namun akan menghasilkan monumen abadi yang tak lekang oleh waktu.

Sang seniman pun akhirnya tergugah dengan konsep yang berani itu, yang sebelumnya tak pernah dicoba. Kendati pun sudah ada segelintir unsur potret diri yang menampilkan sosok para penguasa pada sejumlah patung dewa-dewi.

 BACA JUGA:

Sang seniman dengan semangat menerima tantangan tersebut. Dalam ancangan komposisi potret realis yang dibuatnya, Ibu Suri duduk bersila dan memancarkan penampilannya yang anggun laksana jelmaan seorang dewi. Salah satu atribut yang ditampilkan adalah pose tangan yang melambangkan roda hukum yang terus berputar.

Setangkai teratai melingkari lengan kirinya dan sepotong ayat tentang kebijaksanaan tertinggi terukir di atas bunga teratai itu. Tantangan utama bagi Gayatri adalah membuat wajah dan kedua matanya berada dalam keadaan meditasi sublim, sementara bagi pengukir patung tantangannya adalah menuangkan suasana itu ke dalam batu pahat.

Tetapi di sisi lain Gajah Mada menyadari konsep inovatif dari patung itu akan ditentang oleh para pendeta Buddhis. Sebab para pendeta senantiasa menekankan agar pahatan pada sebuah monumen peringatan yang berbentuk dewa atau dewi dibuat formal, dan tak menampilkan ciri manusia, karena cita-cita utama seorang pemeluk Buddhis adalah melenyapkan sifat dan nafsu keduniawian supaya bisa tercerahkan.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement