Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Kapolri Ungkap Filosofi dari Gelaran Wayang Kulit dengan Lakon Tumurune Wiji Sejati

Riana Rizkia , Jurnalis-Jum'at, 05 Juli 2024 |22:53 WIB
Kapolri Ungkap Filosofi dari Gelaran Wayang Kulit dengan Lakon Tumurune Wiji Sejati
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo (foto: istimewa)
A
A
A

JAKARTA - Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri), Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengungkapkan, pesan moral diadakannya kegiatan kebudayaan pertunjukan wayang kulit semalam suntuk dalam rangka Hari Bhayangkara yang tahun ini mengangkat lakon Tumurune Wiji Sejati.

Pagelaran wayang kulit malam ini, kata Sigit, sempat ada kendala teknis mengenai tampilan layar kepada para tamu, namun langsung ditindaklanjuti. Kapolri juga berterima kasih kepada para tamu undangan dan masyarakat yang hadir.

"Jadi tentunya acara malam ini menjadi bagian yang buat kami penting karena memang mengambil lakon Tumurune Wiji Sejati yang dikandung maksud turunnya suatu tunas atau bijih yang membawa nilai kejujuran, kebenaran dan keadilan," kata Sigit di sela-sela acara pagelaran wayang kulit di Jakarta, Jumat (5/7/2024).

Menurut Kapolri, tentunya pertunjukan ini mengandung filosofi yang sangat mendalam dan diharapkan dari filosofi yang ada di ulang tahun Polri yang ke-78, Polri betul-betul bisa melaksanakan amanah, melaksanakan tugas pokoknya sesuai yang menjadi harapan rakyat.

"Dalam hal melaksanakan penegakan hukum, dalam hal memelihara, melindungi serta mengayomi masyarakat, sesuai dengan apa yang diharapkan masyarakat," ungkapnya.

Adapun cerita Raden Wisanggeni yang dimainkan oleh dalang pertama, lanjut Kapolri, menjadi salah satu tokoh yang diharapkan dalam ceritanya ada filosofi atau nasihat yang bisa menjadi pegangan bagi kita semua.

"Seperti janji kita bahwa kita bahwa kita selalu ingin mempertahankan budaya yang luar biasa dari nenek moyang kita, dan ini harus dijaga dan dipertahankan, oleh karena itu saya senang tadi ternyata penggemarnya masih banyak," ujar dia.

Seusai sambutan, para pecinta wayang meminta Kapolri dan sang istri melantunkan sebuah lagu Jogja Istimewa.

Diketahui, Polri menggelar kegiatan kebudayaan pertunjukan wayang kulit semalam suntuk dalam rangka Hari Bhayangkara yang tahun ini mengangkat lakon Tumurune Wiji Sejati.

Karopenmas Divhumas Polri Brigjen Trunoyudo Wisnu Andiko menyebut lakon Tumure Wiji Sejati mengisahkan tentang lahirnya ksatria sejati yang cerdas dan sakti, yakni Raden Wisanggeni.

"Tumurune wiji sejati itu artinya lahirnya satria unggul, cerdas dan sakti. Yakni, Raden Wisanggeni," kata Trunoyudo.

Lakon ini, lanjutnya, diangkat dengan pesan khusus bagi masyarakat yang menonton pertunjukan. Yakni, sosok Wisanggeni yang menegakkan kebenaran, keadilan, dan kejujuran.

"Seperti sosok Raden Wisanggeni ini simbol kekuatan dan keberagaman yang luar biasa," ujarnya.

Dia menyebut ini merupakan tahun ketiga Polri mengadakan pertunjukan wayang kulit semalam suntuk dalam rangka Hari Bhayangkara.

Seperti sebelumnya, lakon dimainkan 3 dalang, yakni Ki Yanto, yang merupakan Hakim Agung, Ki Sri Kuncoro, perwira Polri berpangkat Ipda, dan Ki Harso Widi Santoso, anggota TNI berpangkat Mayor Angkatan Laut.

(Awaludin)

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement