Awal Ramadan pada tahun 1826 menjadi kesiagaan Pangeran Diponegoro dalam menghadapi pasukan Belanda. Bagaimana tidak pasca markasnya di Selarong dihancurkan Belanda, sang pangeran harus mencari markas baru yang lebih aman.
Operasi pengejaran oleh Belanda terus dilanjutkan hingga ke wilayah Yogyakarta Utara. Pimpinan operasi diserahkan kepada Jenderal Mayor van Geen karena de Kock dipanggil ke Batavia. Van Geen melakukan tindakan yang sama dengan de Kock.
Operasi pengejaran dilanjutkan dengan mengerahkan tiga kolone, dan bergerak ke desa Ngrajeg dan Jumeneng. Operasi ini gagal menemukan Diponegoro yang dikawal oleh pasukan Mandung yang dipimpin oleh Tumenggung Mertoloyo.
Sementara itu, Kolonel Cochius memperoleh informasi pemusatan pasukan Diponegoro ada di Pleret bekas keraton Sultan Amangkurat I yang berkekuatan 800-1.000 orang dan dipimpin oleh Tumenggung Wirodirejo alias Kerto Pengalasan. Memang dikutip dari buku "Sejarah Nasional Indonesia IV : Kemunculan Penjajahan di Indonesia", bangunan benteng bekas istana setinggi lebih dari 20 kaki dan tebal, sangat baik untuk bertahan
Setelah melakukan persiapan, pada tanggal 9 Juni 1826 Kolonel Cochius dengan kekuatan 7.342 orang menyerbu benteng Pleret dari empat penjuru. Setelah bertempur satu hari, yang banyak menelan korban dari kedua belah pihak Kerto Pengalasan dapat meloloskan diri ke arah barat, menuju Jekso (Dekso).