Alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Kupang ini menegaskan, seluruh bantuan yang disalurkan berasal dari gajinya pribadi, bukan dari dana pokok pikiran (Pokir) DPRD.
“Pokir baru ada tahun depan. Walaupun saya belum punya Pokir, saya harus bisa membantu mama-mama dari gaji saya," katanya.
Menurutnya, kepedulian ini sejalan dengan visi misi Partai Perindo yang menekankan pentingnya keberpihakan pada kelompok masyarakat yang terpinggirkan, termasuk perajin tenun ikat dan pelaku UMKM.
“Kami diminta pengurus pusat supaya bisa melihat masyarakat yang tidak pernah terjamah bantuan. Kami diharapkan membantu mama-mama, terutama perajin tenun ikat dan UMKM, memberdayakan dan meningkatkan ekonomi mereka," tuturnya.
Bagi Marthen yang pernah mengabdi 33 tahun sebagai ASN sebelum terjun ke politik, tenun ikat bukan sekadar warisan budaya, melainkan juga jalan menuju pemberdayaan ekonomi keluarga. Karenanya, dia berkomitmen untuk terus hadir mendukung kelompok perempuan agar lebih produktif.
Kepedulian ini sejalan dengan fokus DPP Partai Perindo yang tengah mendorong produktivitas kelompok 5P yakni Perempuan, Pemuda, Pekerja, Penyandang Disabilitas dan Pelaku UMKM.