Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Didesak Mundur Gegara Bencana Sumatera, Menteri LH: Saya Berserah Sepenuh Tenaga!

Danandaya Arya putra , Jurnalis-Rabu, 03 Desember 2025 |17:49 WIB
Didesak Mundur Gegara Bencana Sumatera, Menteri LH: Saya Berserah Sepenuh Tenaga!
Menteri LH Hanif Faisol Nurofiq (Foto: Danandaya Arya Putra/Okezone)
A
A
A

JAKARTA — Menteri Lingkungan Hidup (LH), Hanif Faisol Nurofiq, buka suara terkait desakan mundur usai banjir melanda Sumatera Utara (Sumut), Sumatera Barat (Sumbar), dan Aceh. Ia pun berjanji akan menangani pasca-musibah ini sesuai tugas pokok dan fungsi Kementerian LH.

“Ya saya akan berserah sepenuh tenaga untuk melaksanakan ini. Tentu sekali lagi kami mohon izin dukungan kita semua,” kata Hanif usai rapat bersama Komisi XIII DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Rabu (3/12/2025).

Ia menyampaikan musibah yang akhirnya dengan hebat melanda Sumatera merupakan permasalahan lama. Namun, ia enggan menyalahkan menteri atau pihak berwenang sebelumnya.

“Karena ini kan permasalahan jangka lama ya, tidak terjadi di saat ini saja. Ini mungkin terjadi beberapa… Tapi kita enggak menyalahkan ya,” ujarnya.

Penanganan pasca-musibah ini akan ia fokuskan pada peningkatan daerah serapan air atau hutan, agar ketika hujan ekstrem melanda wilayah tersebut air dapat terserap secara maksimal. “Pokoknya yang penting, landscape-nya kurang sehingga kita perlu meningkatkan kapasitas landscape,” ujarnya.

Ia juga menyoroti banyaknya kayu gelondongan yang terbawa arus banjir bandang di wilayah Batang Toru, Tapanuli Selatan. Berdasarkan kajian peta satelit Kementerian Lingkungan Hidup, bagian hulu wilayah tersebut seharusnya merupakan hutan. Namun kini beralih fungsi menjadi lahan pertanian.

“Ini fungsinya secara tata ruang justru kepada pertanian lahan kering dan pertanian lahan basah. Padahal, tempatnya di puncak ya, sehingga begitu terjadi bencana ya seperti ini,” katanya.

Pihaknya juga melihat adanya indikasi pembukaan lahan sawit yang membuat pohon di hutan wilayah tersebut terpaksa ditebangi. Kayu-kayu bekas penebangan hutan terpaksa dipinggirkan atau tidak bisa dibakar lantaran adanya kebijakan zero burning.

“Kemudian, ada indikasi pembukaan-pembukaan kebun sawit yang menyisakan log-log (kayu gelondongan), karena memang kan zero burning sehingga kayu itu tidak dibakar tapi dipinggirkan. Nah, ternyata banjirnya yang cukup besar mendorong itu menjadi bencana berlipat-lipat,” tuturnya.

(Arief Setyadi )

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement