Ketika fasilitas ini terganggu, layanan rutin seperti pengobatan penyakit kronis, imunisasi, serta layanan kesehatan ibu dan anak ikut terhenti. Dampaknya sering kali tidak langsung terlihat, tetapi terasa dalam jangka menengah dan panjang.
Sementara itu, Sumatera Barat kerap menunjukkan kekuatan solidaritas komunitas saat bencana terjadi. Modal sosial ini menjadi aset penting dalam fase darurat. Namun, dari sudut pandang kesehatan publik, solidaritas sosial tetap perlu ditopang oleh sistem pelayanan kesehatan yang siap dan berkelanjutan. Tanpa dukungan sistemik, risiko penyakit berbasis lingkungan, gangguan gizi di pengungsian, serta masalah kesehatan mental tetap menjadi ancaman nyata.
Pada fase tanggap darurat, masalah kesehatan yang paling sering muncul meliputi cedera fisik, diare, infeksi saluran pernapasan akut, dan penyakit kulit. Ketersediaan air bersih dan sanitasi menjadi persoalan utama. Kelompok rentan seperti ibu hamil, bayi, lansia, dan penyandang disabilitas berada pada posisi paling berisiko.
Dalam praktiknya, layanan kesehatan sering kali bersifat responsif dan jangka pendek, belum sepenuhnya dirancang dalam kerangka kesinambungan layanan.
Kesehatan Mental
Ketika bencana terjadi, isu kesehatan mental merupakan aspek yang tak jarang terpinggirkan. Sejumlah kajian Kementerian Kesehatan dan lembaga akademik menunjukkan bahwa tingkat stres dan kecemasan masyarakat meningkat signifikan pascabencana.