Namun, layanan dukungan psikososial belum selalu terintegrasi secara konsisten dalam respons darurat. Di wilayah dengan bencana berulang, beban psikologis bersifat kumulatif dan memerlukan pendekatan jangka panjang.
Dalam konteks ini, pendekatan kesehatan masyarakat menawarkan kerangka berpikir yang relevan. Deklarasi Alma-Ata yang dirumuskan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menegaskan bahwa primary health care bukan semata layanan medis, melainkan strategi menyeluruh yang mencakup pencegahan, kesinambungan layanan, partisipasi masyarakat, serta keadilan akses.
Dalam situasi bencana, prinsip ini menekankan bahwa kesehatan harus dijaga tidak hanya pada fase darurat, tetapi sepanjang siklus krisis mulai dari kesiapsiagaan, tanggap darurat, hingga pemulihan. Tanpa kesinambungan tersebut, intervensi kesehatan berisiko terputus di tengah jalan dan kehilangan dampak jangka panjangnya.
Tantangan semakin kompleks saat memasuki fase transisi dari tanggap darurat menuju pemulihan. Perhatian publik dan media mulai berkurang, sementara sebagian masyarakat masih tinggal di pengungsian atau hunian sementara.
WHO mencatat bahwa risiko wabah penyakit justru dapat meningkat pada fase ini, ketika layanan dasar belum sepenuhnya pulih dan pengawasan kesehatan melemah. Penyakit menular, gangguan gizi, serta terbatasnya akses layanan kesehatan primer menjadi risiko yang perlu diantisipasi.
Pengalaman di berbagai daerah menunjukkan bahwa masyarakat relatif dapat memahami keterbatasan sumber daya dalam situasi darurat. Namun, kesehatan publik menuntut kesinambungan, bukan sekadar respon sesaat. Ketika layanan kesehatan berhenti seiring berakhirnya status darurat, dampak yang tersisa seringkali justru lebih panjang dan kompleks.