“Kebijakan berprinsip pemerintah Republik Islam Iran didasarkan pada pelestarian persatuan dan kohesi etnis serta sekte, serta penguatan solidaritas nasional,” katanya, seperti dikutip kepresidenan, sebagaimana dilansir Anadolu.
Pezeshkian juga menekankan pentingnya persatuan di antara negara-negara Muslim.
“Saya sepenuh hati percaya bahwa umat Islam dan negara-negara Islam adalah saudara, dan saya sangat yakin bahwa bersama-sama melalui kerja sama kita dapat membangun kawasan yang aman, maju, dan berkembang bagi rakyat kita,” ujarnya.
Ia mengkritik apa yang digambarkannya sebagai “permusuhan” dari Amerika Serikat dan Israel, menuduh mereka melakukan tekanan ekonomi, berupaya memprovokasi konflik, dan secara langsung mendukung kerusuhan di Iran.
“Mereka mengira bahwa dengan tindakan-tindakan ini, mereka dapat mengubah Iran menjadi Suriah atau Libya, tanpa menyadari bahwa mereka tidak mengetahui realitas, sifat, dan kebesaran rakyat Iran,” katanya. Ia menambahkan bahwa “kehadiran luas dan sadar bangsa Iran” telah menggagalkan rencana-rencana tersebut.
“Kami sedang berdialog dengan Amerika ketika, di depan mata seluruh dunia, mereka melancarkan serangan militer terhadap kami... Dalam interaksi dengan negara-negara Eropa, kami mencapai kesepakatan dan konsensus, tetapi Amerika-lah yang melanggarnya dan tidak mendukungnya,” ujarnya.