Setelah pemberontak menguasai ibu kota Tripoli, Saif al-Islam mencoba melarikan diri ke negara tetangga, Niger, dengan menyamar sebagai suku Badui. Milisi Brigade Abu Bakr Sadik menangkapnya di jalan gurun dan membawanya ke kota Zintan, sekitar satu bulan setelah ayahnya diburu dan ditembak mati oleh pemberontak.
"Saya tetap di sini. Mereka akan mengosongkan isi senjata mereka ke tubuh saya saat saya keluar dari sini," katanya dalam rekaman audio saat ratusan pria mengerumuni pesawat angkut tua angkatan udara Libya.
Saif al-Islam dikhianati oleh seorang nomaden Libya yang membocorkan keberadaannya kepada para penangkap. Ia menghabiskan enam tahun berikutnya dalam tahanan di Zintan, sebuah kondisi yang sangat kontras dengan kehidupan mewah yang ia jalani di masa kekuasaan ayahnya, saat ia memiliki harimau peliharaan, berburu dengan elang, dan bergaul dengan kalangan atas Inggris saat berkunjung ke London.
Human Rights Watch sempat menemuinya di Zintan. Hanan Salah, direktur lembaga tersebut untuk wilayah Libya, mengatakan kepada Reuters saat itu bahwa Saif tidak mengeluhkan adanya penganiayaan. "Kami memang menyampaikan kekhawatiran tentang Gaddafi yang ditahan di sel isolasi hampir sepanjang waktu selama dia ditahan," ujarnya.
(Arief Setyadi )