JAKARTA - Kemacetan menjadi masalah yang menghantui warga Jakarta. Ada sejumlah upaya untuk mendorong publik untuk beralih dari kendaraan pribadi ke transportasi publik demi mengatasi kemacetan.
Staf Khusus Gubernur DKI Jakarta, Chico Hakim, menegaskan perubahan mindset menjadi kunci utama setahun terakhir kepemimpinan Pramono Anung-Rano Karno. Salah satu terobosan yang berdampak luas adalah kebijakan penggunaan transportasi umum bagi ASN dan masyarakat setiap hari Rabu.
Selain itu, armada transportasi juga akan diperkuat.
"Kami ingin memaksa dalam arti positif agar transportasi umum menjadi gaya hidup. Fokus utama kita adalah transportasi berbasis rel (MRT & LRT) sebagai tulang punggung, namun diperkuat dengan armada Transjakarta dan Mikrotrans hingga ke depan pintu rumah warga," ujar Chico dalam diskusi di Jakarta, Minggu (8/2/2026)
Dampak kebijakan ini tercermin pada data operasional. Direktur Utama Transjakarta Welfizon Yuza, mengungkapkan pada 2025, Transjakarta mencatat rekor baru dengan total 413 juta pelanggan. Jumlah itu tumbuh sebesar 11%.
"Integrasi adalah kuncinya. Dengan coverage area yang mencapai hampir 90%, Transjakarta kini bukan sekadar alat angkut, tapi sudah menjadi bagian dari lifestyle anak muda," ucapnya.
Di sisi lain, Wakil Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta, Ujang H, menjelaskan selain integrasi antarmoda, Pemprov DKI fokus pada rekayasa lalu lintas berbasis AI (IPCS). Selain itu, perluasan kantong parkir di perbatasan Jabodetabek juga jadi perhatian.
"Rencana besar kami mencakup pengembangan bus listrik hingga tahun 2030, perluasan layanan ke Kepulauan Seribu, serta pembangunan gedung parkir strategis seperti di kawasan Senopati untuk mengurai kemacetan di titik-titik krusial," katanya.