JAKARTA – Bergabungnya militan Uyghur dengan kelompok teroris Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) dikabarkan telah menimbulkan perselisihan antara China dengan Pakistan. Pasalnya, para militan Uyghur dilaporkan bergabung dengan ISIS-Khorasan, sebuah sayap ISIS berbasis di Pakistan, sehingga menimbulkan ancaman serius bagi China dan mengancam proyek-proyek Beijing di bawah Koridor Ekonomi China–Pakistan (CPEC).
Beijing telah meminta Islamabad untuk mengambil langkah-langkah guna memastikan keselamatan dan keamanan warga negara China, sehingga menimbulkan tekanan pada hubungan bersahabat yang selama ini erat dan kokoh antara kedua negara.
Dilaporkan Nepal Aaja, pada 12 Juli tahun lalu, sebuah media pro-ISIS merilis poster yang menuduh China menganiaya Muslim Uyghur dan menyerang pemerintah Muslim yang mempertahankan hubungan dengan Beijing. ISIS menyatakan para pejuangnya sebagai “satu-satunya harapan bagi Uyghur” dan mengancam akan menghancurkan “kekaisaran tirani” China. Poster itu menuduh Partai Komunis China (PKC) sejak merebut kekuasaan di Negeri Tirai Bambu pada tahun 1949 telah menggunakan “setiap taktik dan bentuk penindasan kejam yang dapat mereka kerahkan” terhadap rakyat Uyghur; serta menyebut Pakistan sebagai “murtad” karena memperdalam “persahabatan” dengan China.
Upaya ISIS merekrut jihadis Uyghur menggarisbawahi aliansi mereka yang semakin kuat dengan Partai Islam Turkestan, juga dikenal sebagai Gerakan Islam Turkestan Timur, yang menimbulkan ancaman keamanan bagi China di Pakistan. ISIS-K secara aktif berupaya merekrut pejuang Partai Islam Turkestan, menawarkan insentif ekonomi agar bergabung, mendorong pengikutnya menyerang target-target China, serta meningkatkan propaganda berbahasa Uyghur.
Dalam sebuah pesan pada Maret 2024, juru bicara ISIS Abu Hudhayfah Al-Ansari menyatakan bahwa bersatu dan melakukan jihad di bawah panji ISIS adalah satu-satunya solusi bagi rakyat Uyghur yang menderita di tangan China.