JAKARTA - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump berjanji bahwa tidak akan lagi ada serangan Israel terhadap ladang gas South Pars, yang merupakan ladang gas utama Iran. Serangan tersebut telah memicu serangan pembalasan Iran ke sejumlah fasilitas energi di negara-negara Teluk.
Dalam sebuah unggahan di media sosial, Trump mengatakan bahwa Israel yang marah “melakukan serangan balasan brutal ke South Pars”. Washington mengatakan pihaknya tidak ikut serta dalam serangan tersebut.
Serangan terhadap ladang gas South Pars yang besar tersebut mendorong harga minyak naik dan memicu ancaman Iran untuk menyerang target minyak dan gas di seluruh Teluk, sementara Iran juga menembakkan rudal ke Qatar dan Arab Saudi.
Eskalasi ini meningkatkan gangguan pasokan energi global yang belum pernah terjadi sebelumnya, yang telah meningkatkan taruhan politik bagi Trump, yang bergabung dengan Israel dalam menyerang Iran hampir empat minggu lalu.
Perusahaan minyak raksasa negara Qatar, Qatar Energy, melaporkan "kerusakan luas" setelah rudal Iran menghantam Kota Industri Ras Laffan yang memproses sekitar seperlima pasokan gas global.
Arab Saudi mengatakan telah mencegat dan menghancurkan empat rudal balistik yang diluncurkan ke arah Riyadh serta upaya serangan drone terhadap fasilitas gas di wilayah timurnya.
Iran kembali menargetkan fasilitas gas Qatar dan rudalnya juga menargetkan ibu kota Saudi. Qatar Energy melaporkan "kebakaran besar" dan kerusakan luas di beberapa fasilitas gas alam cair (LNG) miliknya yang menjadi sasaran serangan rudal pagi ini.
"Israel, karena marah atas apa yang telah terjadi di Timur Tengah, telah menyerang secara brutal sebuah fasilitas utama yang dikenal sebagai Ladang Gas South Pars di Iran," tulis Trump di X.
"Sayangnya, Iran tidak mengetahui hal ini, atau fakta-fakta penting terkait serangan South Pars, sehingga secara tidak adil dan tanpa dasar menyerang sebagian fasilitas gas LNG Qatar."
"TIDAK AKAN ADA LAGI SERANGAN YANG DILAKUKAN OLEH ISRAEL terkait Ladang South Pars yang sangat penting dan berharga ini kecuali Iran dengan gegabah memutuskan untuk menyerang Qatar yang sangat tidak bersalah," tambah Trump, sebagaimana dilansir RTE.
"Dalam hal tersebut, Amerika Serikat, dengan atau tanpa bantuan atau persetujuan Israel, akan meledakkan seluruh Ladang Gas South Pars secara besar-besaran dengan kekuatan dan daya yang belum pernah dilihat atau disaksikan Iran sebelumnya."
South Pars adalah sektor Iran dari cadangan gas alam terbesar di dunia, yang dimiliki Iran bersama Qatar, sekutu dekat AS dan tuan rumah pangkalan militer terbesar Amerika Serikat di Teluk.
Sejak awal konflik, Teheran tidak hanya menargetkan Israel, tetapi juga fasilitas diplomatik dan militer AS di seluruh Teluk serta memperingatkan negara-negara tetangganya untuk tidak menjadi tuan rumah serangan terhadap Iran.
Dengan tidak adanya tanda-tanda penurunan ketegangan, Trump mempertimbangkan untuk mengirim ribuan pasukan AS lagi ke Timur Tengah, menurut seorang pejabat AS dan tiga orang yang mengetahui perencanaan tersebut.
Pasukan tersebut dapat digunakan untuk memulihkan jalur aman kapal tanker minyak melalui Selat Hormuz, titik rawan bagi seperlima perdagangan minyak dunia.
Uni Emirat Arab menutup fasilitas gas Habshan setelah mencegat rudal yang ditembakkan dalam apa yang disebut kementerian luar negerinya sebagai "serangan teroris" oleh Iran.
Serangan Iran telah menewaskan orang-orang di Irak dan di seluruh negara-negara Teluk, dan setidaknya 13 anggota militer AS telah tewas dalam perang tersebut.
(Rahman Asmardika)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.