Kantor Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa pelarangan tersebut murni demi keselamatan, tanpa niat diskriminatif. Mereka bahkan menyatakan tengah menyusun skema agar ibadah tetap dapat berlangsung dalam beberapa hari ke depan.
Namun, penjelasan itu tidak meredam gelombang kritik.
Duta Besar AS untuk Israel, Mike Huckabee, menyebut langkah tersebut sebagai tindakan yang “melampaui batas”, mengingat pembatasan jumlah ibadah sebenarnya masih memungkinkan.
Dari Eropa, kecaman mengalir deras. Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni menyebutnya sebagai penghinaan terhadap kebebasan beragama. Presiden Prancis Emmanuel Macron menegaskan bahwa akses ibadah untuk semua agama harus dijamin di Yerusalem.
Sementara itu, diplomat Uni Eropa Kaja Kallas memperingatkan bahwa insiden ini mencederai prinsip lama perlindungan situs suci. Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez pun menyerukan penghormatan terhadap keberagaman keyakinan sebagai fondasi hidup berdampingan.
Di tengah bara konflik geopolitik, Yerusalem kembali menjadi panggung sensitif, tempat iman, politik, dan keamanan saling bertabrakan. Dan kali ini, yang terhalang bukan hanya pintu gereja, tapi juga rasa damai yang seharusnya menyertai Pekan Suci.
(Awaludin)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.