Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Mengapa Trump Menunda Penghancuran Peradaban Iran dalam Semalam?

Opini , Jurnalis-Rabu, 08 April 2026 |15:17 WIB
Mengapa Trump Menunda Penghancuran Peradaban Iran dalam Semalam?
Direktur Center for the Study of Muslim Politics and World Society (COMPOSE)., Ridwan al-Makassary. (Foto: Dok. Pribadi)
A
A
A

Selama berbulan-bulan, AS menyuarakan narasi tegas bahwa Iran harus dilumpuhkan. Infrastruktur strategisnya dianggap target sah, tekanan ekonomi diperketat, dan ancaman penghancuran total bahkan disuarakan tanpa keraguan. Di balik semua itu, ada keyakinan lama bahwa kekuatan militer, jika digunakan secara maksimal, mampu membentuk ulang realitas politik sebuah bangsa dengan perubahan rezim.

Namun, realitas tidak sesederhana itu. Iran tidak runtuh, meskipun berdarah-darah dan terluka. Selain itu, ia tidak kehilangan jati dirinya. Negara itu tetap berdiri tegak sebagai entitas politik yang utuh, dengan satu pesan yang sulit diterima oleh kekuatan besar mana pun: tidak semua bangsa bisa dipaksa menjadi apa yang diinginkan Amerika Serikat.

Di titik inilah perang mulai kehilangan maknanya. Gencatan senjata dua minggu bukanlah hasil dari kesepakatan matang. Amerika Serikat mengajukan ancaman menakutkan dan Iran bergeming. Ia adalah jeda yang lahir dari kebuntuan, tatkala semua opsi militer tidak lagi menjanjikan kemenangan bersih. Maka berhenti dan bernegosiasi menjadi satu-satunya pilihan rasional untuk mewujudkan perdamaian jangka panjang dan stabilitas kawasan.

Amerika Serikat memahami bahwa eskalasi lebih lanjut hanya akan memperluas ketidakstabilan global, mulai dari krisis energi hingga tekanan politik domestik. Iran, di sisi lain, menyadari bahwa bertahan saja tidak cukup; stabilitas jangka panjang membutuhkan ruang untuk menghela napas, membangun kembali, dan menghindari perang berikutnya demi masa depan yang lebih baik.

 

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement