Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Emansipasi dalam Dialektika dan Makna Baru Sebuah Kebebasan Dalam Kesetaraan Gender

Opini , Jurnalis-Rabu, 15 April 2026 |12:42 WIB
Emansipasi dalam Dialektika dan Makna Baru Sebuah Kebebasan Dalam Kesetaraan Gender
Ilustrasi. (Foto: Unsplash)
A
A
A

Dilema Emansipasi

Sejalan dengan filsafat Hegel bahwa cara menuju kemajuan dimulai dari pertentangan (antitesis). Era R.A. Kartini tahun 1900-an sebelum menikah ia memberikan syarat pada calon suaminya untuk diperbolehkan mendirikan sekolah dan mengajar. R.A. Kartini tidak ingin gender membatasi kesempatan perempuan mendapatkan pendidikan dan berkarir. Buku berjudul “Habis Gelap Terbitlah Terang” merupakan pemikirannya yang maju pada masa itu bahwa Kartini menyuarakan kesetaraan gender melalui perjuangan hak pendidikan bagi perempuan Indonesia. Dari perlawanannya pada tatanan sosial lama memberikan dampak sampai pada hari ini. Fase baru (sintesis) dimulai setelah perjuangan R.A. Kartini, perempuan mendapat kesempatan belajar, kebebasan berpikir dan menentukan pilihan masa depannya. Perempuan mendefinisikan ulang identitasnya di luar rumah. Modernisasi memperkuat identitas baru perempuan yang setara dengan laki-laki dalam pendidikan formal, memiliki karir profesional, memperoleh kemandirian ekonomi dan kebebasan mengambil keputusan atas dirinya sendiri. Sintesis ini tampak seperti kemenangan atas sebuah kebebasan bagi perempuan. Namun kenyataan sekarang sintesis tidak sepenuhnya stabil. Perempuan modern kini menghadapi beban ganda: di satu sisi kebebasan memberikan kesempatan pada ambisi karir, di sisi lain perempuan dituntut menjadi ibu yang ideal.

Pada pekerjaan formal dengan sistem kerja yang tidak fleksibel, membuat perempuan harus “bernegosiasi waktu” antara pekerjaan dan pengasuhan. Menurut penelitian (Gupta et al., 2024) menyatakan bahwa ibu bekerja sering menghadapi konflik antara peran kerja dan keluarga yang memicu stres dan tekanan psikologis. Hasil riset David et al. (2025) yang berjudul “Work-Life Balance: The Key to Employee Engagement and Employee Performance”, menyatakan keseimbangan kehidupan kerja memiliki pengaruh signifikan terhadap kesejahteraan dan produktivitas perempuan. Ketidakseimbangan hidup dan pekerjaan akan berdampak pada performa kerja, kesehatan mental, dan hubungan sosial.

 

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement