Menurutnya, Transformasi Pesantren (TP) dibangun di atas tiga aspek utama, yakni kurikulum, kepengasuhan, dan sumber daya manusia. Ketiga aspek tersebut menjadi fondasi penting dalam membangun pesantren yang adaptif terhadap perubahan zaman tanpa kehilangan jati dirinya.
“Jangan menstandarisasi pesantren karena itu berbahaya. Pesantren memiliki karakter dan kekhasan yang berbeda-beda sehingga proses transformasi harus dilakukan secara bertahap dan sesuai konteks masing-masing pesantren,” ujarnya.
Ufi juga menekankan bahwa pesantren memiliki potensi besar untuk berkembang menjadi pusat pemberdayaan ekonomi umat dan mampu beradaptasi dengan perubahan global tanpa harus meninggalkan tradisi keilmuan yang menjadi ciri khasnya.
Senada dengan itu, Ketua RMI PBNU KH Hodri Ariev menegaskan bahwa pesantren sejak lama menjadi rujukan masyarakat dalam pendidikan Islam, dakwah, dan pemberdayaan sosial. Karena itu, berbagai tantangan yang muncul harus dijawab dengan penguatan tata kelola dan sistem pengasuhan yang lebih baik.
“Lingkungan kita sudah berubah dan standar norma masyarakat juga berubah. Karena itu Transformasi Pesantren menjadi penting agar pesantren tetap menjadi lembaga yang otoritatif sekaligus lebih aman bagi seluruh warganya,” ujarnya.
Menurut KH Hodri, citra pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam sering kali ikut terdampak ketika terjadi kasus di satu pesantren tertentu. Padahal, kasus tersebut tidak dapat digeneralisasi kepada seluruh pesantren.
“Satu pesantren mengalami kasus, pesantren lain ikut mendapatkan getahnya. Karena itu kita harus bersama-sama menjaga marwah pesantren sekaligus memperkuat sistem perlindungan bagi santri,” pungkasnya.
(Fahmi Firdaus )
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.