JAKARTA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan Indonesia tidak berpotensi mengalami gelombang panas (heatwave) seperti yang melanda sejumlah negara di Eropa meski fenomena El Nino mulai berkembang di tengah tren pemanasan global.
Meski demikian, BMKG mengingatkan masyarakat untuk tetap mewaspadai peningkatan suhu udara yang berlangsung secara bertahap karena berpotensi memicu berbagai gangguan kesehatan, terutama jika disertai kelembapan udara yang tinggi.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, mengatakan kombinasi El Nino dan tren pemanasan global akan membuat hari-hari panas semakin sering terjadi. Namun, karakteristik iklim tropis Indonesia membuat peluang terjadinya heatwave seperti di kawasan subtropis relatif kecil.
"Sampai saat ini, kita masih melihat peluang terjadinya gelombang panas seperti yang terjadi di Eropa atau Amerika relatif kecil karena karakteristik atmosfer Indonesia berbeda. Namun, bukan berarti kita tidak perlu mengantisipasi dampak panas terhadap kesehatan," kata Ardhasena dalam webinar Panduan Menjaga Kesehatan Keluarga di Musim Ekstrem El Nino, dikutip Sabtu (11/7/2026).
Menurut BMKG, wilayah laut yang mengelilingi Indonesia berperan sebagai penyangga alami yang membantu menjaga kestabilan suhu udara. Kondisi tersebut membuat lonjakan suhu ekstrem seperti yang terjadi di Eropa maupun Amerika relatif sulit terjadi di Indonesia.
Berdasarkan data BMKG, suhu rata-rata Indonesia pada Mei 2026 mencapai 27,5 derajat Celsius, atau sekitar 0,5 derajat Celsius lebih tinggi dibandingkan rata-rata klimatologi periode 1991–2020. Kenaikan suhu tersebut dinilai meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama bagi masyarakat yang banyak beraktivitas di luar ruangan.