Keputusan tersebut menandai pergeseran politik yang signifikan oleh Hamas, yang telah memerintah Gaza sejak mengambil alih kendali dari gerakan Palestina saingan, Fatah, pada tahun 2007 setelah memenangkan pemilihan legislatif tahun sebelumnya.
Sementara itu, pejabat senior Hamas juga menegaskan bahwa masalah pengatalogan senjata kelompok tersebut "akan bertepatan dengan penarikan bertahap Israel dari wilayah yang berada di bawah kendali Israel di Gaza, yang mengarah pada penarikan penuh".
Sejak gencatan senjata diberlakukan pada 10 Oktober, pasukan Israel telah memperluas wilayah pendudukan mereka di Gaza, dan saat ini menguasai lebih dari 60 persen wilayah tersebut.
Israel telah membunuh lebih dari 73.000 warga Palestina, sebagian besar perempuan dan anak-anak, dan melukai lebih dari 174.000 lainnya dalam genosida di Gaza sejak Oktober 2023.
Israel telah menghancurkan sebagian besar wilayah tersebut dan menyebabkan seluruh penduduknya mengungsi.
Para analis mengatakan bahwa jumlah korban tewas akibat genosida Israel yang dikutip oleh pejabat Palestina adalah angka yang kurang tepat, dengan angka sebenarnya berpotensi dua hingga tiga kali lebih tinggi.
Gencatan senjata tersebut ditengahi berdasarkan rencana 20 poin Trump untuk Gaza, yang diawasi oleh Dewan Perdamaian, yang diketuai oleh Trump.
Terlepas dari gencatan senjata yang mulai berlaku pada 10 Oktober 2025, Israel terus melakukan pelanggaran setiap hari di seluruh Gaza, menewaskan 1.214 warga Palestina dan melukai 3.977 lainnya, sebagian besar perempuan dan anak-anak, serta menyebabkan kerusakan yang meluas.
(Rahman Asmardika)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.